Terjadi di BUMDes Drunten Kulon Indramayu, Dana Kepengurusan Terindikasi Diselewengkan? | Bhayangkara Nusantara

Terjadi di BUMDes Drunten Kulon Indramayu, Dana Kepengurusan Terindikasi Diselewengkan?

 433 total views

DANA usaha milik Desa Druntenkulon, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat terindikasi diselewengkan oleh pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.

Uang yang bersumber dari Dana Desa (DD) sebesar 50 juta per satu tahun sejumlah 250 juta untuk BUMDes Druntenkulon itu disinyalir disunat oleh oknum. Hal ini diungkapkan sumber yang layak dipercaya berinisial AS, warga masyarakat Desa Druntenkulon. 

“Ya Pak, selama ini BUMDes tidak ada kegiatan dalam menjalankan roda usaha milik desa. Padahal ada bantuan dari DD sebesar 50 juta pertahun dan sekarang sudah lima tahun berjalan,” ucap AS.

AS juga merasa heran, sekiranya kalau ada dana dari desa sebesar itu namun tak jelas peruntukannya dan BUMDes juga tidak transparans dalam mengelola suatu usaha milik desa itu.

“Bahkan selama ini BUMDes digunakan hanya untuk para perangkat desa setempat sebagai bentuk simpan pinjam, tapi banyak yang tidak mengembalikan dana tersebut,” tutur AS.

Saat dikonfirmasi Direksi BUMDes Druntenkulon, Rasmaya sedang tidak berda di Kediamannya. Namun menyampaikan pesan melalui WhatApps. “Ya bener Mas, tapi tar akan saya jelaskan kalau ada waktu,” kata Rasmaya melalui pesannya di WA.

Terjadi di BUMDes Drunten Kulon Indramayu, Dana Kepengurusan Terindikasi Diselewengkan?

Baca Juga:  Kasus yang Terjadi di BUMDes Gabuswetan Semakin Terbongkar, Dirutnya Angkat Bicara...
Baca Juga:  Pembangunan Jalan Tani di Dusun Tetelangka Ada Pagar Pemilik Lahan, LSM Ini Minta Penjelasan Camat

Di lain hari, Direksi BUMDes tersebut kemudian menghubungi media ini untuk datang ke kantor Desa Druntenkulon guna memberikan penjelasan tentang masalah tersebut. Dalam keterangannya ia membantah adanya informasi bahwa pihak BUMDes bermasalah dalam keuangan.

“Saya mengelola uang dari desa tersebut dengan tiga usaha yang saya jalankan,” ungkap Rasmaya di kantor Desa Druntenkulon, mengklarifikasi.

Adapun usaha tersebut, pertama simpan pinjam buat para perangkat desa sendiri karena ia memiliki Penghasilan Tetap (Siltap). Kedua, suplay beras untuk program bantuan sosial (bansos) dengan memakai logo BUMDesnya. “Yang ketiga saya belikan obat-obatan sorotan khusus untuk para petani,” kata Rasmaya.

Terkait kasus ini, salah seorang tokoh masyarakat desa mewakili sebagian besar masyarakat Desa Druntenkulon meminta kepada BUMDes bersifat transparan dalam mengelola setiap usaha milik desa tersebut. Atim Sawano – Indramayu

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0