Tak Terima Tagihan Bengkak, Warga di Jakarta Akan Laporkan PLN Cengkareng | Bhayangkara Nusantara

Tak Terima Tagihan Bengkak, Warga di Jakarta Akan Laporkan PLN Cengkareng

 155 total views

SEORANG warga Kota Jakarta, Aries melalui kuasa hukumnya akan melaporkan pihak PLN Cabang Area Cengkareng ke polisi karena tak terima tagihan listriknya bengkak mencapai Rp. 135,487,205.

Aries heran, rumahnya dalam keadaan kosong dan tidak dihuni tapi kenapa dibebankan serta timbul tagihan sebesar itu. Ini diungkapkannya menanggapi adanya laporan terkait tagihan listrik sebesar Rp. 135,487,205 hutang pada Rabu (10/2/21).

Lewat kuasanya Aries menyampaikan, pihaknya telah memenuhi panggilan untuk memberikan keterangan kepada pihak PLN. “Memastikan penagihan yang dilakukan tidak sesuai dengan pemakaian pelanggan dan ketentuan yang berlaku,” kata Aries, Jumat (16/4/21).

Baca Juga:  Lapas Jakarta Marak Narkoba, FOKAN Geruduk Kemenkum HAM Minta “Ganti Kakanwil DKI...!”
Baca Juga:  Proyek Sumur Bor Tenaga Surya Mangkrak, LUCW Ancam Demo Polres dan Surati Polda NTB

Selaku warga Indonesia yang baik, selama ini Aries merasa taat dan patuh pada aturan yang berlaku. Ia pun kembali memastikan biaya yang ditagihkan kepadanya tak sesuai dengan pemakaian.

Karena rumah dalam keadaan kosong dan tidak dihuni dari tahun 2018 sampai 2021. Dikuatkan lagi surat pengantar dari RT, RW dan tetangga bahwa benar rumah tersebut tidak dihuni.

Di tempat lain, Noval selaku staf transaksi energi P2TL Area Cengkareng menjelaskan duduk permasalahannya.

Ia mengungkapkan, tagihan yang besar itu terjadi karena pihak PLN berasumsi rumah tersebut tidak kosong dan ada penghuninya, membayar listrik token yang telah digunakannya.

“Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, ada kelainan di kWh meter di pelanggan kita ini, lalu tagihan token yang ia gunakan juga tidak pernah dibayar,” ungkapnya

Sebelumnya, lanjut Noval, pihaknya juga telah menyampaikan surat pemanggilan, supaya bisa disampaikan penjelasan kepada pelanggan sesuai SOP yang ada. “Semuanya sudah kami jelaskan ke konsumennya terkait hal ini,” ujar Noval.

Aries menyebut, listrik yang digunakan baru 7 bulan. Awal tahun 2020 bulan September. Karena itu, sesuai aturan harus membayar tunggakan tagihan yang belum dibayarkan. Padahal rumah tersebut tidak dihuni dari tahun 2018 sampai 2020.

“Terdapat tunggakan yang belum dibayar, itupun dengan catatan saya selaku konsumen merasa tidak bersalah, dalam arti alatnya rusak dengan sendirinya, akibat gangguan. Bukan saya yang merusaknya dan diperbaiki bukan permintaan saya. Kebetulan lokasi rumah dalam keadaan kosong dan tidak ditempati,” imbuh Aries.

Lebih lanjut Aries menjelaskan, dalam Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) yang harus ditandatangani oleh kedua belah pihak, dalam hal ini PLN dan pelanggan saat pengajuan menjadi pelanggan PLN, terdapat klausul yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Salah satunya adalah pelanggan berhak mendapatkan tenaga listrik secara terus menerus yang telah dibayarnya sesuai yang telah diperjanjikan dengan mutu dan keandalan yang baik, sedangkan kewajiban pelanggan membayar tagihan pemakaian tenaga listrik sesuai dengan batas waktu seperti yang diperjanjikan.

Aries menambahkan, dalam perjanjian tersebut juga diatur kewajiban pelanggan sebagai pihak kedua, untuk membayar tagihan susulan sesuai ketentuan yang berlaku akibat ditemukannya pelanggaran atau gangguan atau kelainan pada pemakaian tenaga listrik dan atau akibat pemakaian tenaga listrik tidak terukur secara penuh akibat peralatan pengukuran bekerja tidak normal bukan dikarenakan kesalahan pihak kedua.

“Jadi semua hal dan kewajiban kedua belah pihak telah diatur dalam SPJBTL yang ditandatangani di awal pengajuan sebagai pelanggan PLN. Namun Dalam hal ini saya tidak ada perjanjian SPJBTL dengan pihak PLN Area Cengkareng,” tutup Aries. zuneth/den/ben – Jakarta

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0