Sengketa Lahan di Desa Wioi Satu, Ratahan Timur “Catatan Hitam” Bagi Dunia Agraria

 1,075 total views

PERSOALAN sengketa lahan dan pekarangan yang berlokasi di Desa Wioi Satu, Kecamatan Ratahan Timur, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) yang sempat viral di media sosial (medsos) menambah daftar “catatan hitam” bagi dunia agraria di daerah.

Apalagi polemik sengketa lahan tersebut ikut ditunggangi oknum Aparatur Sipil Negara (ASN). Salah satunya kisruh yang terjadi antara Kepala dinas Pertanian Kabupaten Mitra, Dra. Yohana Untu dengan keluarga Pontororing-Mokolensang.

Menurut keterangan pihak keluarga Pontororing-Mokolensang, Yohana Untu diduga telah melakukan pemalsuan dokumen tanah dan penyerobotan lahan milik keluarga Pontororing- Mokolensang .

Mereka mempertanyakan keabsahan beberapa surat surat tanah yang dimiliki Yohana Untu adalah sengaja dipalsukan dan terdapat banyak kejanggalan.

Baca Juga:  Perang Urat Syaraf di Kedungdawa: Mantan Buka-bukaan, BPD Bongkar Fakta
Baca Juga:  Viral, Kadis Pertanian Mitra Serobot Lahan dan Tutup Jalan Air Sawah Warga Dibully di Medsos

Mereka menilai mantan Camat Ratahan Timur tersebut telah menggelembungkan isi volume tanah dan merekayasa dalam menentukan lokasi mata angin tidak sesuai kedudukan lahan yang sebenarnya.

Masih menurut pihak keluarga Pontororing-Mokolensang, saat dilakukan pembukaan register desa di kantor Polres Mitra di Ratahan pada Rabu (2/6/21), Yohana Untu juga tidak dapat menunjukan surat sertifikat tanah yang pertama.

Ia beralasan, surat sertifikat tersebut pembuatannya salah. “Nah ini yang kami pertanyakan, kenapa demikian, sehingga kami menilai Yohana sudah melecehkan lembaga hukum yang telah mengeluarkan sertifikat,” kata Enos Arnold Pontororing.

Harusnya, saat pembukaan register di Polres, Yohana dapat menunjukan bukti dokumen yang dia miliki. “Tetapi kenapa dia tidak membuktikannya,” sebut pihak keluarga.

Sebagai seorang ASN yang notabene pejabat negara, seharusnya dia menunjukan sikap proaktif, termasuk menunjukan bukti kepemilikan yang valid.

“Kami akan terus mengawal kasus ini hingga menemukan kebenaran, karena lahan tersebut adalah milik dan punya keluarga kami,” sebut Enos.

Sementara, Yohana Untu saat dimintai konfirmasi terkait persoalan tersebut mengaku memiliki dokumen tanah, hanya saja enggan menunjukan di Polres.

Kisruh persoalan lahan tersebut ikut tercium oleh pemerintah daerah dan langsung ditindaklanjuti pihak Polres Mitra.

Kapolres Mitra AKBP Rudi Hartono, SIK melalui Kasatreskrim Iptu Ahmad Muzaki, SIK saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya sudah melakukan mediasi dengan menghadirkan kedua pihak dan pemerintah desa serta kecamatan untuk mendengarkan keterangan serta pembukaan register. Dacko/Bert – Mitra

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
9
+1
2
+1
2