Seleksi Calon Paskibraka Kota Manado Dibalut "Skandal", Dekot Manado Tutup Mata | Bhayangkara Nusantara

Seleksi Calon Paskibraka Kota Manado Dibalut “Skandal”, Dekot Manado Tutup Mata

 282 total views

ADA apa dengan DPRD Kota (Dekot) Manado? Mengapa aduan yang dilayangkan Santia Thomas terkait seleksi calon Paskibraka di hadapan anggota Komisi D, Yanti Kumendong hingga kini belum ditindaklanjuti?

Padahal aduan Santia Thomas, Ibunda Natalya Thomas berkaitan dengan dugaan skandal seleksi calon Paskibraka Kota Manado tahun 2021 yang diadukannya sejak 5 Maret 2021.

Mengutip pernyataan Santia Thomas, bahwa seleksi tahap 1 diikuti tujuh orang siswa, seleksinya sendiri dilakukan di SMKN 3 Manado, termasuk utusan dua sekolah lainnya yakni, SMAN 4 dan SMKN 9. Adapun syarat penilaian meliputi berat badan dan tinggi badan yang dilakukan Dinas Kesehatan Manado.

Baca Juga:  Kasus Covid di Sangihe Bertambah, Ini Catatannya
Baca Juga:  Kades Jorlang Huluan, Kabupaten Simalungun Tidak Transparan dalam Pengelolaan Proyek

Hasil seleksi tahap 1 Natalya Thomas berhasil mengungguli rekan-rekannya dan selanjutnya mengikuti seleksi tahap 2. Seleksi tahap 2 berlangsung selama empat hari, akan tetapi sebelum masuk seleksi, peserta yang lolos tahap 1 dihadirkan di Dispora Kota Manado pukul 8 pagi untuk arahan buat seleksi tahap 2 esok hari.

Menurut Santia Thomas, saat pengarahaan Alisya Umar yang tidak lolos tahap1 tidak muncul. Namun herannya, keesokkan harinya Alisya Umar datang ke Dispora untuk mengikuti seleksi tahap 2. “Anehnya lagi, Alisya Umar datang tidak bersamaan jam dengan peserta lain,” ujar Santia Thomas dalam testimoni tertulis yang diterima wartawan bhayangkaranusantara.com Senin (12/4/21).

Alisya Umar datang di jam yang sudah lewat seleksi phsikotes dan hadir tidak menggunakan nomor dada. Usai seleksi tahap 2 nama Natalya Thomas gugur dan yang lolos ternyata Alisia Umar. Padahal sebelumnya yang bersangkutan telah dinyatakan tidak lolos seleksi tahap 1. Aneh bin ajaib, ada apa dengan panitia seleksi?

Sementara pengakuan Alisya Umar kepada Santia Thomas, ia menggantikan siswa dari SMK 2 yang tidak datang karena sakit. Tidak masuk akal jika melihat seleksi tahap 1 diikuti lebih dari 100 siswa/i yang berasal dari seluruh Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan sementara yang dicari hanya 90 orang untuk lanjut diseleksi tahap 2.

Peserta seleksi tahap 2 tersisa 89 siswa, sebab yang satunya sakit. Zejatinya seleksi bisa dilanjutkan walau hanya 89 orang. “Kan dicari hanya 62 orang, lalu mengapa harus digenapi 90 baru dilaksanakan seleksi? Aneh ‘kan, lebih dari itu anak saya Natalya Thomas yang tidak lulus malah anak yang tidak lulus seleksi tahap pertama lolos seleksi tahap dua,” ucap Santia penuh tanya.

Sementara itu pihak panitia seleksi calon Paskibraka Kota Manado tahun 2021 melalui Stery Andi kepada wartawan bhayangkaranusantara.com mengatakan, Natalya Thomas dinyatakan tidak lolos karena tidak memenuhi syarat, tinggi badannya hanya 161 cm, sedangkan Alisia Umar tinggi badannya 163 cm.

Berbanding terbalik dengan penjelasan Ibu dari Natalya Thomas, menurutnya seleksi tahap pertama untuk semua proses seleksi baik yang menyangkut berat dan tinggi badan ditangani langsung pihak Dinas Kesehatan Kota Manado. Hasilnya, tinggi badan anaknya 164 cm, tapi saat menjalani pengukuran ulang tinggi badan di Dispora berkurang menjadi 163 cm.

Stery Andy ketika ditanya tentang adanya sinyalemen permainan duit membantah tudingan tersebut. Dia mengatakan tidak menemukan adanya praktek-praktek tersebut.

“Kalau pun ada, akan ditindak tegas dan tidak ada toleransi bagi siapa saja panitia yang terlibat perbuatan suap sebagaimana yang ditengarai sementara pihak,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Manado, Tonny Mamahit ketika ditanya tentang dugaan skandal suap, manipulasi dan pemalsuan data antara Capas Natalya Thomas dan Alisia Uma lewat fasilitas WhatsApp tidak memberi tanggapan.

Di bagian lain, mantan Ketua PPI Sulawesi Utara, DR. Hendrik (Opo) Manossoh, SE, Ak, M.Si mengatakan, jika memang benar ada dugaan permainan duit, pemalsuan dan manipulasi data antara Natalya Thomas dan Alisia Umar, tidak perlu lagi dilakukan seleksi. “Main tunjuk saja, percuma ada seleksi kalau tidak fair, itu hanya buang-buang duit,” ujar Manossoh.

Perlu diingat negara/daerah telah menganggarkan dana untuk kebutuhan seleksi. Demikian juga dengan capas, sudah barang tentu ada biaya-biaya yang dikeluarkan orang tua. “Kalau akhirnya seleksi memunculkan kecurigaan adanya nepotisme dan permainan “duit”, mau dibawa ke mana masa depan generasi muda kita yang lolos seleksi capas tapi memiliki mentalitas rapuh akibat dari seleksi yang tak transparan dan dibalut skandal,” ucap Manossoh.

Manosoh menambahkan, mengapa ada seleksi, tentu untuk menemukan capas yang memenuhi syarat, baik secara fisik, mental, kepribadian, moral, etika dan juga cerdas.

“Mereka tidak hanya sekedar penggerek bendera semata, melainkan menjadi sarana pembinaan generasi muda dan wadah pengembangan potensi sekalian mempersiapkan mereka menjadi pemimpin masa depan bangsa,” imbuhnya. John-Sulut

Komentar Anda
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0