Sangkaan Pemerasan Oleh Penyidik Polresta Manado Terhadap Lima Oknum Wartawan Dinilai Prematur

MANADO,- Tuduhan Penyidik Polresta Manado terhadap lima oknum wartawan, masing-masing berinisial, A, F, C, D dan W melakukan pemerasan terhadap pengelolah restoran sea food Dabu-dabu lemong di bilangan Boulevard Dua Tuminting Manado,  dinilai prematur,” terang Egenius Paransi, SH, MH

Menurutnya pemerasan dapat terpenuhi jika terjadi pengancaman disertai dengan kekerasan sebagaimana tersebut dalam KUH-Pidana pasal 368 dengan ancaman hukuman 8 bulan penjara, jika unsur ini tidak terpenuhi maka Polisi tak boleh terburu-buru mensangkakan lima oknum wartawan dimaksud melakukan pemerasan,” jelas Paransi, sosok yang sering dihadirkan di pengadilan sebagai saksi ahli.

Ini kan didahului negosiasi, singkat kata telah terjadi kesepakatan antara pengelolah restoran dengan lima oknum wartawan dimana, pihak pengelolah bersedia memberikan uang senilai Rp. 3.000.000,- sesuai kesepakatan tanpa paksaan tapi mengapa pihak Kepolisian menyebutnya sebagai tindakan pemerasan, dimana unsur pemerasan,” tanya paransi.

Jangan-jangan sebelum terjadi transaksi pihak pengelolah telah terlebih dahulu menghubungi pihak kepolisian dengan menyebutkan ada lima oknum wartawan melakukan pemerasan, ini jebakan dan pihak pengelolah dapat saja terancam di lapor balik oleh ke-lima oknum wartawan dengan tuduhan pencemaran nama baik,” tutur pakar hukum pidana Unsrat Manado.

Dia juga mengingatkan pihak Polresta Manado tidak tergesa-gesa dalam bertindak sebab ini masih ranahnyanya para pihak, dalam hal ini wartawan dan pihak pengelolah, belum menjadi ranahnya kepolisian kecuali ke-lima oknum wartawan tersebut melakukan pengancaman, intimidasi dan atau pemaksaan,” sebut staf ahli bidang legislasi DPRD Prov. Sulut.

Paransi mengatakan akibat hal ini, pihak Polresta Manado terancam di pra-peradilankan oleh ke-lima oknum wartawan terkait penangkapan yang diduga tidak di-sertai surat penangkapan termasuk penetapan sebagai tersangka dinilai tidak sah dan tidak sesuai dengan hukum acara pidana dan oleh karena itu harus di-nyatakan bebas demi hukum,” ujar Paransi, mengingatkan.

Baca Juga:  Diduga Pembangunan Tower Tak Berijin Di Wilayah Kec Sempor

Menurutnya ini kan kasus sepele, Polisi itu tidak hanya sebagai aparat penegak hukum semata  tapi juga dapat bertindak sebagai juru damai, hal itu sejalan dengan harapan dan himbauan Kapolri sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kapolri (Perkap) nomor 6 tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana dalam pasal 12 di kenal asas Restoraktif of Justice artinya upaya pemulihan pada keadaan semula.

Keadaan semula yg damai ini tugas sebagai upaya Polri untuk mendamaikan antara kedua bela-pihak hanya pada kasus-kasus yang tidak bersentuhan dengan tubuh dan kasus yang berdimensi luas serta meresahkan masyarakat Tindak Pidana berdasarkan Keadilan Restoratif (Restorative Justice).

Dengan kata lain kalau bisa di -selesaikan lewat jalan damai, mengapa harus di-tingkatkan menjadi penyidikan ? sementara Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 6 Tahun 2019 mengatur tentang Penanganan Tindak Pidana berdasarkan Keadilan Restoratif (Restorative Justice).

Sebagaimana di-ketahui sebelumnya, dugaan pemerasan seperti yanh di sangkakan pihak penyidik Polresta Manado dan pengelolah terjadi pada Kamis, (20/10/22) di restoran sea food Dabu-dabu lemong di bilangan Boulevard Dua Tuminting.

Di kutip dari laman berita, BeritaManado.com edisi (22/1022 )Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Sugeng Wahyudi Santoso menyebutkan modus mereka yaitu berpura-pura menemukan sehelai rambut dan lalat di makanan yang mereka pesan kemudian komplain ke pihak Rumah Makan.

Tuduhan Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Sugeng Wahyudi yang menyebutkan lima oknum wartawan berpura-pura menemukan seutas rambut dan lalat di makanan merupakan pemutarbalikan fakta dan pembohongan publik.

Ditemukannya lalat dan rambut di minuman dan makanan adalah fakta bukan modus atau rekayasa ke-lima oknum wartawan, hal ini bersesuaian dengan konten video yang beredar luas di jejaring sosial dimana jelas terlihat sebuah benda hitam didalam minuman yang diduga menyerupai lalat.

Baca Juga:  Tinjau Prokes di Sekolah, Bupati Lampung Tengah Pesan: Jangan Ada Pungli

Saat di-temukannya lalat dan rambut di makanan, kemudian lima wartawan di-maksud meminta sejumlah uang  agar hal ini tidak dipublikasikan ke media kata Sugeng, Sabtu (22/10/2022).

Sementara itu kasus di temukannya lalat dan rambut di makanan dan minuman jadi tanda awas serta perhatian buat calon pelanggan agar lebih selektif dalam memilih rumah makan/restoran yang menunya benar-benar terjamin baik dari aspek higienitas dan kebersihan,” sebut Paransi.

Dia menambahkan, hal higienitas dan kebersihan merupakan hal prinsip dan fundamental sebagaimana di-atur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor : 1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang, Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran.

Aturan ini jadi berbanding terbalik dengan layanan pihak pengelolah restoran sea food dan dabu-dabu lemong yang diduga abai terhadap aturan pemerintah, tanpa disadari hal ini menjadi preseden buruk buat pemilik resto
ketika persoalan ini terkuak ke publik akibat, di-temukannya lalat dan rambut di makanan yang di-sajikan.

Saya berharap hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja, Pemerintah kota (Pemkot) dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Manado menindak tegas terhadap kelalaian yang dilakukan pihak pengelolah sesuai dengan aturan yang berlaku,” desak Paransi.

Penulis
(*John Lalonsang)

 

Komentar Anda