Puskominfo Indonesia: Pentingnya Literasi Media Bagi Jurnalis dalam Menangkal Hoax | Bhayangkara Nusantara

Puskominfo Indonesia: Pentingnya Literasi Media Bagi Jurnalis dalam Menangkal Hoax

 727 total views

KEBEBASAN pers sejak era reformasi diberikan pemerintah Indonesia untuk mendapatkan keleluasan yang lebih besar kepada media massa agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

Seiring dengan itu, Puskominfo Indonesia, sebagai organisasi pers yang menaungi hampir 70 media, baik cetak maupun elektronik, juga tumbuh berkembang dengan jumlah wartawannya yang terus bertambah.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Puskominfo Indonesia, Diansyah Putra Gumay, SE, S.Kom, MM di kediamannya Ciaruteun, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/2/21).

Literasi Media

Baca Juga:  Hadiri Puncak HPN 2020, Kadiv Humas Polri Harapkan Peran Pers dalam Memerangi Hoax
Baca Juga:  Puskominfo Ajak Masyarakat Media Cerdas Bermedsos, Pahami Fenomena Hoaks dengan Literasi

“Seperti kita ketahui dan rasakan, kebebasan pers itu ternyata sedikit banyaknya juga menimbulkan masalah. Karena itu wajar jika kemudian muncul kekhawatiran terjadinya pers yang kebablasan, yang berujung pada pertentangan di dalam masyarakat,” kata pendiri Puskominfo Indonesia ini.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang di dalamnya mengatur hak dan tanggung jawab insan pers, kata Adrian, sedianya mengatur dan diharapkan bisa menjadi jalan keluar setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Namun demikian, Adrian melihat, beberapa media yang sudah eksis bahkan yang memiliki nama beserta penikmatnya justru kerap kali menyalahgunakan kepercayaan pembacanya dengan menyajikan berita yang kurang valid, tidak jelas, bahkan tidak bermanfaat. Demi rating, popularitas, dan kepentingan golongan.

“Tak sedikit juga pers Indonesia yang lupa pentingnya kredibilitas dan netralitasnya hanya untuk hal tersebut,” kata Pakar IT dan Manajemen Media di Kapolisian tersebut.

Untuk itu, lanjutnya, Puskominfo sebagai sebuah lembaga pers memberikan bekal literasi kepada para jurnalis untuk menyajikan berita secara berimbang tanpa hoax kepada publik.

“Acap kita jumpai satu peristiwa saja akan menghasilkan beberapa sudut pandang yang berbeda antara satu lembaga pers dengan lembaga pers lainnya. Pembaca pun yang bertindak sebagai penerima informasi harus bersikap lebih bijak dan mencari tahu kebenaran berita tersebut terlebih dahulu sebelum menentukan sikap,” kata Adrian Gumay.

Komentar Anda
+1
5
+1
0
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0