Perlahan, Kasus Dugaan Penguasaan Lahan Tanpa Hak di Desa Temiyangsari Terbongkar

 391 total views

KASUS dugaan penguasaan lahan tanpa hak yang terjadi di Desa Temiyangsari, Blok Mungkuk, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat perlahan mulai terbongkar. Hal ini terungkap dari dikeluarkannya data bukti sah kepemilikan atas tanah oleh sebuah sumber yang belakangan jadi sorotan publik.

Lahan seluas 1 hektar yang sekarang masih dikuasai Rois, penggarap yang bukan pemilik sah ini sedikit demi sedikit sudah mulai terungkap dengan adanya pengakuan salah seorang tokoh masyarakat yang membenarkan bahwa tanah tersebut milik seseorang yang sudah memenangkan gugatan di Pengadilan Negeri Indramayu.

Narasumber bhayangkaranusantara.com, sebut saja Drs. Nugroho Heru Irianto mengungkapkan, sesuai putusan Pengadilan Negri Indramayu Nomor 25/Pdt.G/2017/PN.Idm gugatan dimenangkan Rusli Wahyudi (67) warga Jl. Kebon Nanas, Gg Seha Nomor 6, RT 006/010, Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dan inkrah dikeluarkan tanggal 30 November 2018.

Baca Juga:  Menang Mutlak dalam PAW Desa Babakanjaya, Masirin: Kemenangan Kita Semua
Baca Juga:  Lagi, Begal Berkedok Debt Collector Rampas Motor di Jalan Raya, Ini Modusnya...

“Sesudah putusan Pengadilan Negeri Indramayu belum dilakukan eksekusi lahan karena saat itu mantan Kuwu Temiyangsari, Haerudin meminta biaya tidak wajar, sehingga Pak Rusli Wahyudi menunda eksekusi tersebut,” kata Drs. Nugroho Heru Irianto, di kediamannya, Jumat (19/3/21).

Tambah Nugroho, semua berkas ada di Pengadilan Negeri Indramayu. “Kalau sekiranya bukti yang saya perlihatkan ini masih diragukan, silahkan cek surat Inkrah yang dikeluarkan pada 30 November 2018 di Pengadilan Negeri Indramayu,” kata Nugroho.

Saat ini, lanjutnya, kubu Rusli sudah menyewa pengacara untuk melaporkan dugaan oknum penguasahaan lahan tanpa hak itu ke Polres Indramayu pada 15 Maret 2021 kemarin

Pemberitaan sebelumnya berjudul Masyarakat Temiyangsari, Indramayu Ungkap Dugaan Penguasaan Lahan Tanpa Hak menyebutkan, Rois penggarap lahan tanpa hak tetap bersikeras bahwa objek lahan tersebut sesuai SPPT milik Hj. Siti Fatimah dan sudah tercatat pada buku induk Desa Temiyangsari.

“Saya menggarap lahan Ini dari tahun 1990 dari kakak saya yang bernama Sumanta dan saya juga punya bukti kepemilikan lahan ini berdasarkan C Desa milik Hj. Siti Fatimah,” aku Rois.

Bahkan ia juga mengklim menggarap lahan ini sudah puluhan tahun lebih sejak kakeknya Landam, kemudian turun ke bapaknya Carmad dan ke kakaknya Sumanta sampai saat ini menurun kepadanya pada sejak tahun 1990.

“Sekiranya tanah ini ada yang mengaku silakan buktikan kepemilikannya dan datang ke kantor Desa Temiyangsari dan cek langsung C Desa tanah ini,” tantang Rois.

Sementara Pj Kuwu Temiyangsari, Sopari membenarkan itu. “Betul adanya di buku induk desa, lahan yang menjadi sorotan publik ini masih atas nama Siti Fatimah untuk saat ini,” kata Sopari.

Akan tetapi, untuk hal lain Sopari mengaku tidak tahu apa-apa. “Karena saya masih baru menjabat kuwu desa ini,” tutur Sopari.

Baca Juga:  Investigasi Gudang Mencurigakan, Empat Wartawan Puskominfo Indonesia di Jawa Timur Disekap, Kamera Dirampas Penjaga

Sementara salah seorang mantan Lurah Desa Temiyangsari menyebut, saat pemekaran Desa Temiyangsari tahun 1982 kuwunya masih Tarisah. “Mungkin tanah tersebut dibikinkan SPPT atas nama Siti Fatimah,” ucap Kasra, mantan lurah yang sekarang menjadi tokoh Masyarakat Temiyang.

Menurutnya, hak kepemilikan tanah yang sedang dikuasai penggarap atas nama Rois itu mutlak milik Rusli Wahyudi berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Indramayu Nomor 25/Pdt.G/2017/PN.idm. Atim Sawano – Indramayu

Komentar Anda
+1
1
+1
1
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0