Perempuan di Medsos Perlu Waspadai Kejahatan Ini Jika Tak Ingin… – Bhayangkara Nusantara
Perempuan di Medsos Perlu Waspadai Kejahatan Ini Jika Tak Ingin…

Perempuan di Medsos Perlu Waspadai Kejahatan Ini Jika Tak Ingin…

 209 total views,  1 views today

KEJAHATAN bisa terjadi karena adanya kesempatan. Hal inilah yang lakukan dua orang napi yang meringkuk di balik jeruji besi Lapas di Sumsel. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, juga lemahnya pengawasan dalam lapas, keduanya masih mampu merayu dan melakukan pemerasan terhadap perempuan di jejaring sosial.

Dua orang napi sebut saja Andi Arli (42), warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Lubuk Linggau, Sumsel dan Fandi Ahmad (20) penghuni Lapas Prabumulih, Sumsel harus kembali berurusan dengan hukum. Tim Unit 1 Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Sumatera Selatan menangkap keduanya karena melakukan kejahatan elektronik.

Modusnya, kedua pelaku mencari kenalan perempuan melalui medsos dan mengeluarkan jurus rayuan mereka hingga perempuan yang jadi korban mau bersedia diajak melakukan panggilan video call. Selanjutnya, korban yang sudah termakan rayuan akan mau memperlihatkan bagian terlarangnya, yang tanpa disadarinya saat itu direkam oleh pelaku.

“Dua perekam video melakukan aksinya dengan cara berkenalan dengan korbannya seorang perempuan melalui media sosial dan merekam video call. Selanjutnya, hasil rekaman itu untuk mengancam korbannya jika tidak mengirimkan uang ke rekening banknya,” kata Direktur Reskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol. Anton Setyawan, Kamis (3/9/20) di Palembang.

Diketahui, Andi Arli tersangka yang diamankan dari Lapas Lubuk Linggau adalah warga Desa Muara Kelingi, Musi Rawas saat ini menjalani hukuman atas kasus pencurian dengan pemberatan selama 2 tahun. Modus tersangka menjaring korbannya dengan mengaku sebagai anggota TNI dengan bukti foto berseragam hasil editan foto orang lain dengan cara mengganti foto dengan kepala pelaku. Dengan foto hasil editan berseragam TNI, Andi mengaku bertugas sebagai intel di Kodim Garut berpangkat Serka.

Baca Juga:  Sat Narkoba Polres Jakbar Beberkan Modus Sindikat Narkoba Jaringan Malaysia - Jakarta

Aksi tersangka awalnya berjalan mulus dan menjalin hubungan dengan korban selama 3 bulan. Puncaknya saat membuat rekaman video call. Pelaku membujuk rayu dan berjanji akan datang menemui dan menikahi korban, warga salah satu daerah di Sumsel. Selama menjalin hubungan melalui gawai (handphone – red.), tersangka beberapa kali meminta sejumlah uang kepada korban yang totalnya mencapai Rp. 17,5 juta. “Setelah mendapatkan semua yang diinginkannya, sambungan teleponnya diblokir,” ujarnya.

Sementara untuk Fandi Ahmad, warga binaan Lapas Prabumulih yang menjalani hukuman 9 tahun karena kasus narkoba, mengaku anggota Polri yang bertugas di Lampung untuk meluluhkan perempuan kenalannya di medsos. Fandi berkenalan dengan korbannya TKW di Malaysia melalui media sosial dan berhasil merayu korban merekam video call adegan asusila dengan maksud memeras korban.

Parahnya, jika korbannya tidak memberikan uang, tersangka mengancam akan menyebarkan potongan gambar (screenshot-red.) video asusila yang direkam.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Supriadi menegaskan, kedua pelaku dijerat dengan Pasal 35 juncto Pasal 51 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun kurungan penjara. BN01/POLDA SUMSEL

Komentar Anda

Bagaimana Reaksi Anda?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1