Perang Panji di Pilgub Sulut, Wajah Kota Tahuna Jadi Merah, PDI-P Curi Start?

 341 total views

PERANG panji atau aksi saling unjuk kekuatan partai politik untuk menunjukkan banyaknya dukungan lewat pemasangan bendera partai terjadi di pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara membuat wajah Kota Tahuna sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe jadi merah ditutupi bendera parpol.

Pemasangan bendera parpol ini diketahui sudah dimulai sejak dua pekan lalu. Pantauan bhayangkaranusantara.com di pantai Teluk Tahuna yang merupakan tampak depan atau wajah dari Kota Tahuna sepanjang kurang lebih 4 kilometer sudah dipagari oleh bendera dari partai PDI P.

Ribuan bendera bendera ini terlihat berderet rapi dalam jarak 2 – 4 meter membuat merah dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Tahuna Timur dan Tahuna.

Walaupun tahapan kampanye nanti dimulai pada 26 September, namun pemasangan bendara parpol ini terlihat mendahului tahapan kampanye, sehingga sejumlah warga Kota Tahuna menganggap pihak PDI-P Sangihe melakukan praktek curi start.

Sedangkan rival berat dari PDI-P yaitu partai Golkar baru mulai terlihat memasang panji partai pada Rabu atau Kamis (1/10/20) kemarin di sepanjang wilayah pantai Kelurahan Tidore, Kecamatan Tahuna Timur, sehingga panji merah dan kuning terlihat memenuhi pesisir Teluk Tahuna.

Pihak Bawaslu Sangihe yang dihubungi wartawan bhayangkaranusantara.com, Sabtu (3/10/20) untuk dimintai tanggapan terkait aksi perang panji di tempat umum dan terbuka ini (jalan dan jembatan) serta adanya indikasi curi start dari pihak PDI-P yang dinilai curang, memberikan penjelasan melalui Komisioner Bawaslu Sangihe, Jemmy Sudin, STh, Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan antar Lembaga.

Menurut Sudin, panji atau atribut partai pada masa kampanye bisa dipasang setelah tahapan masa kampanye dimulai dan untuk pemasangan di bahu jalan itu boleh, tetapi pada tempat tempat umum tertentu, termasuk di atas jembatan itu tidak bisa.

Baca Juga:  Bubarkan THM Langgar Prokes, Kapolsek Pondok Gede dan Danramil Dikurung dalam Cafe Ini, yang Ngunci Karyawan

Terkait masalah ini, dalam waktu dekat Bawaslu akan memberikan imbauan kepada pemerintah daerah dalam hal ini melalui Kesbangpol dan Satpol-PP untuk menertibkan atribut-atribut partai yang ada di tempat umum sesuai aturan yang berlaku.

Disinggung soal praktek saling lempar bola dalam penertiban APK (Alat Peraga Kampanye) dan atribut parpol, Sudin dengan tegas mengatakan kalau mengacu pada regulasi yang lama kewenangan itu ada pada Bawaslu, namun dengan regulasi yang baru hal itu jadi kewenangan pemerintah daerah melalui Kesbangpol dan yang menjadi eksekutor di lapangan adalah Satpol-PP.

Meski dalam pemilihan Gubenur dan Wakil Gubernur Sulut ini ada tiga paslon yang bertarung, namun yang terlibat dalam perang panji hanya ada dua partai pengusung paslon, yaitu PDI-P vs Golkar Sangihe. Sementara kubu partai NASDEM sangihe yang mengusung Vonnie Anneke Panambunan (VAP) tak mau terlibat dalam perang panji dan lebih memilih diam tak banyak bicara.

Sebagai Komisioner Bawaslu,
Jemmy Sudin mengimbau agar masing-masing pendukung paslon mau berkompetisi dengan baik sesuai aturan agar dapat menarik simpati masyarakat Sangihe sebagai pemilih. “Dengan demikian suasana pilkada akan berjalan aman sesuai harapan dan tujuan kita bersama,” katanya. Adrianto – Sangihe

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0