Pasca Kasus Senpi Rakitan, Lihat Usaha Eks Napi Asal Lamteng ini, Dilirik Mabes Polri | Bhayangkara Nusantara

Pasca Kasus Senpi Rakitan, Lihat Usaha Eks Napi Asal Lamteng ini, Dilirik Mabes Polri

 1,979 total views

EMPAT tahun sudah Sukirman (50), warga Kampung Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, menghirup udara bebas dari tahanan pasca kasus perakitan senjata api (senpi) yang ia lakukan di 2014 lalu.

Sukirman yang bebas tahun 2017, kini melanjutkan usahanya sebagai seorang pekerja las bubut di rumahnya. Menariknya usahanya saat ini dilirik Mabes Polri, dijadikan role model pencegahan pembuatan dan peredaran senpi ilegal.

Ditemui di kediamannya, Sukirman tampak tekun mengerjakan order las yang didapatnya dari warga. Ia memang memilih melanjutkan pekerjaan lamanya.

Sukirman mengungkapkan, meski terkadang tetap mendapatkan pandangan negatif dari sejumlah warga terkait pekerjan dan kasus yang pernah dialami, namun hal itu justru menjadi pemicu baginya untuk tak mengulangi perbuatannya.

perakit senpi

Baca Juga:  Hari Ini, Mabes Gelar Vaksinasi Covid Tahap 1 untuk Pati Polri
Baca Juga:  Anggota Dewan PKS Tolak Rencana Pemerintah Ubah Skema Penyaluran Gas 3 Kg

“Justru saya mau melihatkan kepada masyarakat bahwa apa yang saya lakukan dulu adalah hal yang salah dan saya tak mau mengulangi perbuatan itu kembali,” kata Sukirman, sambil menceritakan keterlibatannya dulu dalam proses perakitan dan penjualan senjata api yang dilatarbelakangi masalah ekonomi.

“Saya dulu tertarik dengan tawaran pembelinya, apalagi dibeli dengan harga mahal. Sampai akhirnya (jual beli senpi rakitan-red.) itu diketahui pihak kepolisian, hingga saya ditangkap dan harus di penjara akibat kesalahan perbuatan saya itu,” ujarnya.

Ia menceritakan, keahlian merakit senpi itu didapatnya secara otodidak, karena dirinya lama bekerja di bengkel las di kawasan Bandar Jaya selama sembilan tahun.

Kini Sukirman tetap menjalankan profesinya sebagai tukang las, meski serba dalam keterbatasan alat dan pelanggan yang menurun. Terlebih di masa pandemi Covid-19 saat ini, dirinya tetap berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya merakit senjata api.

“Sekali lagi, saya mengimbau kepada rekan-rekan seprofesi (tukang las-red.) dan masyarakat Lampung secara umum, agar taat hukum. Tidak berbuat kriminal dan jangan membuat senpi rakitan, walau di masa sulit pandemi Covid-19, karena merakit senpi hukumannya cukup berat, yaitu mati atau kurungan selama 20 tahun penjara,” imbuhnya.

Sementara Tim dari Mabes Polri Kompol Marjuki menerangkan, pihaknya telah melakukan penyuluhan hukum dengan tujuan agar masyarakat taat hukum dan meniadakan perakitan senjata api ilegal untuk perbuatan kriminal dan rusuh massa.

Marjuki menerangkan, pihaknya mengajak Sukirman selaku mantan perakit senpi untuk bersama-sama menjaga kondusifitas dengan memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tak melakukan perbuatan kriminal, terlebih melakukan perakitan senpi.

“Di wilayah Lampung dan sekitarnya selama ini terdeteksi banyak sekali perakitan senjata api ilegal dengan alasan untuk jaga kebun dari hama binatang seperti babi hutan. Untuk itu Mabes Polri lakukan pembinaan dan  penyuluhan hukum kepada mantan pelaku perakitan senjata api,” ujar Kompol Marjuki.

Pihaknya menjelaskan juga, di masa pandemi Covid-19 saat ini, Mabes Polri tetap mengimbau kepada masyarakat mengedepankan protokol kesehatan, yaitu menggunakan masker, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan.

Sementara, Kanit Keamanan Intelkam Ipda Jupriyanto mewakili Kapolres AKBP Popon Ardianto Sunggoro, S.IK, SH mengapreasi langkah Mabes Polri dalam melakukan pembinaan dan penyuluhan hukum terhadap mantan pelaku perakitan senpi ilegal di kabupaten itu.

“Kami mengimbau masyarakat supaya taat akan hukum dan tidak melakukan suatu perbuatan kriminal dan perakitan senjata api ilegal. Tentu saja, langkah antisipasi itu untuk menekan bahkan meniadakan kasus kasus kriminal bersenpi di wilayah Lampung dan sekitarnya,” terang Jupri. BoRnok – Lamteng

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
4
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0