Oknum Jaksa NTK Diduga Coreng Nama Baik Institusi, Bakal Dilapor Ke Kejagung Dan Ombudsman RI

 303 total views

Bhayangkaranusantara.com-Mandegnya proses hukum kasus penyerobotan tanah oleh tersangka SAM alias Sinyo di tangan oknum Jaksa NTK alias Noval memantik sejumlah tanggaan publik antara lain datangnya seorang pakar hukum pidana, dosen fakultas hukum Unsrat Manado, Tirto Adi Koesoemo,

Menurut lelaki yang akrab di sapa Mener Adi, tindakan oknum Jaksa NTK yang menggantung kasus tersebut merupakan pelanggaran terhadap Hukum Acara Pidana yang didalamnya menyebutkan setelah 14 hari pelimpahan berkas perkara tahap I jaksa yang mengani perkara tersebut wajib hukumnya memberi petunjuk kepada penyidik.

Baca Juga:  Pembangunan BCC Anggaran CSR PT. Vale Menuai Sorotan

Petunjuk sebagaimana dimaksud adalah jaksa harus memastikan apakah berkas perkara yang dilimpahkan penyidik sudah lengkap atau masih ada yang harus di lengkapi, bukan di gantung seperti itu, berikan kepastian hukum kepada masyarakat,” ucap Koesoemo.

Menurutnya, oknum jaksa sebagaimana di maksud harus di jatuhi sangsi, selain karena di duga telah melakukan pelanggaran terhadap hukum acara pidana, ternyata di duga yang bersangkutan juga sempat meminta sejumlah uang kepada pelapor, Reinhard Rompis, adalah perbuatan yang telah mencoreng nama baik institusi kejaksaan.

Saya mendengar pihak pelapor akan melaporkan perbuatan oknum Jaksa berinisial NTK alias Noval ke Kejagung dan Komisi Etik Kejaksaan termasuk melaporkan NTK ke Ombudsman, langkah untuk melaporkan oknum NTK adalah tindakan yang tepat, kalau bisa se segera mungkin laporannya di sampaikan kepada Kejagung dan Ombutsman,” desaknya.

Baca Juga:  Kondisi Rumahnya tak Layak Huni, Kakek Ini Dapat Rumah dari Pemdes dan Warga

Tidak berbeda jauh dengan tanggapan seorang pakar hukum Toar Palilingan, SH, MH dia menanyakan tentang berlarut-larutnya pananganan kasus penyerobotan tanah oleh tersangka SAM alias Sinyo, mengapa mandeg di tangan oknum Jaksa NTK.

Kasus semacam ini saya kira tidak butuh waktu lama, ini sudah bertahun-tahun belum juga tuntas, bisa-bisa kasus tersebut kadaluarsa, apalagi kalau pihak penyerobot sudah tidak menguasai atau berdiam atau tinggal di tempat itu, kasusnya tidak dapat di lanjutkan,” terang Palilingan.

Lebih lanjut Palilingan, sebagai wartawan, anda atau tim anda harus turun, melakukan investigasi lapangan,
tidak hanya mendengar informasi lalu membuat berita, harus turun melihat dan mendengar secara langsung bagaiman dan seperti apa duduk persoalannya,’ ucap Palilingan.

Sebagaimana di ketahui Kasus penyerobotan tanah yang diduga dilakukan SA alias Makalew di eks perumahan Gubernuran Kairagi Weru, lingkungan IV, akhirnya bermuara di Polresta Manado pada selasa, 16 Agustus 2016

Setelah melakukan somasi sebanyak tiga kali kepada pihak keluarga besar yang di wakili oknum SAM dan perintah pengosongan rumah dan tanah oleh Lurah setempat berdasarkan tanda bukti kepemilikan berupa sertipikat tanah atas nama Reinhard Rompis, tak di-indahkan oleh oknum berinisial SAM, pihak pemilik lahan melaporkan kasus penyerobotan tanah tersebut kepada pihak Polresta manado.

Pelaporan kasus dugaan penyerobotan tanah di buktikan dengan tanda terima laporan, Nomor : STTLP/1945/VIII/2016/SPKT/RESTA MDO tertanggal 16 Agustus 2016 yang di terima oleh Bripka Melki A Rembet, Banit II Polresta Manado.

Setelah melalui proses lidik dan di-temukan adanya bukti permulaan yang cukup, proses penyelidikan di tingkatkan menjadi penyidikan dan oknum SAM alias Sinyo, pelaku penyerobotan tanah di tetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polresta Manado.

Ditengah proses penyidikan sementara berlangsung, pihak tersangka mengajukan gugatan pembatalan sertifikat atas nama Reinhard Rompis ke Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN) sehingga proses penyidikan di hentikan sambil menunggu putusan Pengadilan TUN.

Singkat cerita setelah proses gugatan yang di lakukan penggugat baik di Pengadilan TUN sampai di tingkat kasasi, gugatan pihak penggugat oleh Pengadilan tingkat kasasi menguatkan putusan pengadilan tingkat pertama yakni, menolak gugatan penggugat secara keseluruhan.

Tak hanya sampai di-situ Sinyo Aldrin Makalew mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Kelas I.A/ PHI/TIPIKOR MANADO namun tanpa ada angin atau pun hujan oknum SAM melakukan pencabutan gugatan secara sepihak terhadap Reinhard Rompis.

Setelah proses hukum yang di lakukan pihak penggugat dinyatakan ingkrah, penyidikan terhadap tersangka berlanjut. Dan akhirnya proses penyidikan di-nyatakan rampung, pihak penyidik Polresta Manado melakukan pelimpahan berkas perkara tahap I atas nama tersangka SAM kepada pihak Kejari Manado.

Pelimpahan berkas perkara atas nama tersangka SAM di buktikan dengan tanda terima berkas perkara oleh pihak Kejari Manado pada tanggal 4 Maret 2019 namun hingga kini proses hukumnya mangkrak, ada apa dengan Kejari Manado, mengapa harus berlarut-larut ?

Pelimpahan berkas perkara sebagaimana di maksud, sampai berita ini tayang, oknum jaksa yang menangani perkara tersebut tak kunjung memberi petunjuk kepada pihak penyidik tentang kelanjutan dari pelimpahan berkas perkara tahap I.

Usut punya usut, oknum jaksa Noval, diduga meminta sejumlah uang kepada Reinhard Rompis (Pelapor) senilai Rp. 10 juta april 2019, permintaan uang tersebut menurut penjelasan oknum jaksa Noval, akan di-berikan kepada Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado.

Bukan cuma itu, salah satu staf oknum Jaksa Noval berinisial FR alias Frangky juga tak ketinggalan melakukan permintaan sejumlah uang kepada Reinhard Rompis, desember 2019 senilai Rp. 5 juta, menurut Frangki permintaan uang tersebut lebih bermaksud memperlancar proses P21,” beber Frangky kepada Reinhard Rompis. (John-Sulut).

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0