Marak Beredar Rokok Ilegal di Bangil Pasuruan, Legalitas Produsen Tak Jelas

 309 total views

PT. Perkasa Mitra Makmur Mandiri, perusahaan sekaligus pabrik yang memproduksi rokok merk CARTEL yang terletak di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, telah berdiri sekitar 5 tahun dan memiliki karyawan produksi lebih kurang 74 orang.

Namun demikian, selama kurun waktu itu, perusahaan rokok tersebut berdiri tanpa memiliki legalitas yang jelas dalam kegiatan produksinya.

Pengawas PT. Perkasa Mitra Makmur, Mandiri, Edi ketika dikonfirmasi media ini perihal tersebut menjawab dengan kooperatif.

Di antaranya seputar surat Izin Usaha Industri, Tanda Daftar Perusahaan, Izin Prinsip Pemanfaatan Ruangan (P2R) dan dokumen lain yang dipertanyakan.

Meski terlihat kooperatif, namun sayangnya Edi tidak bisa menunjukkan semua itu. Terlebih pada perusahaan tersebut tidak terpasang papan nama perusahaan.

Baca Juga:  Proyek Jalan Lingkungan di Desa Suwari, Gresik Beraroma Korupsi
Baca Juga:  Belum Dibayar, Pekerja Proyek Rehab Total Gedung Paket 2 Jakarta Pusat di SD Semper Barat Demo

Diduga, papan tersebut sengaja tidak pasang oleh pihak PT Perkasa Mitra Makmur Mandiri. Tujuannya jelas untuk menghindari pajak negara.

Tak hanya itu, selain merugikan negara, rokok yang diketahui produksi tanpa cukai itu juga dinilai dapat mendatangkan penyakit baru bagi penggunanya. Karena belum diuji lab oleh pemerintah terhadap komposisi di dalamnya.

“Kita tidak tahu, apa saja campuran rokok tanpa cukai tetsebut, karena pemerintah belum memeriksanya. Namanya tanpa cukai, bisa saja ada bahan berbahaya yang sengaja dicampurkan,” ungkap A, narasumber yang tak bersedia disebut namanya, Rabu (9/6/21).

Sumber mengungkapkan, jika diperhatikan memang terlihat sama dengan yang menggunakan cukai, seperti daun tembakau asli, tapi setelah diperiksa ternyata bukan. “Makanya, pihak yang berwajib harus segera menertibkan peredarannya,” ungkapnya.

Rokok ilegal ini diketahui sudah bertahun-tahun beredar luas. Tak hanya di daerah, di luar pulau pun juga beredar sama sampai ke pelosok pegunungan dan di kios-kios lainnya. Bahkan merambah hingga ke pelosok desa.

Menariknya lagi harga yang ditawarkan lebih murah dan baru-baru ini muncul kebijakan pemerintah yang nantinya akan menaikkan harga rokok.

“Sekarang, sudah sampai ke desa-desa. Para perokok sangat senang dengan rokok ilegal ini. Harga murah, mutu tak kalah dengan yang pakai cukai. Bayangkan, hanya dihargai Rp. 7000,- per bungkus. Sedangkan rokok yang bercukai, Rp. 24.000,- per bungkus. Selisih harganya sangat jauh. Para perokok tidak mau tahu dengan campuran atau efek yang diakibatkan rokok ilegal ini. Yang penting murah,” ungkap sumber.

Lebih lanjut dijelaskan, rokok tanpa cukai ini bukan seperti narkoba yang diedarkan dan dikonsumsi secara sembunyi-sembunyi. Tapi bisa dilihat, di mana-mana orang mengkonsumsi rokok tanpa cukai tersebut.

“Di pasar maupun kios- kios masih bebas menjual rokok tanpa cukai. Jadi saya rasa, sangat gampang untuk mengungkapnya. Itupun kalau ada niat dari aparat mau bertindak lebih tegas,” jelasnya.

Disebut dalam undang-undang, pelaku peredaran rokok ilegal akan dikenai dengan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

“Ancaman pidananya penjara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling sedikit dua kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar,” katanya. SP – Pasuruan

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0