Jalan Kemangkon, Purbalingga Rusak Parah Akibat Galian C, Warga Harus Seperti Ini... | Bhayangkara Nusantara

Jalan Kemangkon, Purbalingga Rusak Parah Akibat Galian C, Warga Harus Seperti Ini…

 569 total views

AKTIFIFAS tambang Galian C plus armada pengangkut yang membawa hasil tambang kerap jadi penyebab rusaknya jalan, baik ringan, sedang bahkan parah. Selalu, muatan melebihi tonase dituding jadi penyebab utama rusaknya akses jalan desa.

Seperti yang terjadi di jalan penghubung Desa Kemangkon ke Kelampok, tepatnya jalan depan kantor Balai Desa Kemangkon, sepanjang jalan rusak parah. Jmbasnya warga jadi terhambat perjalanan dan keselamatannya terancam.

Salah seorang warga yang dijumpai saat melintas jalan tersebut kepada bhayangkaranusantara.com Senin (9/11/20) mengatakan sangat kecewa melihat kondisi jalan yang dibangun dari dana APBD ini rusak parah. Kesalnya lagi, aparat setempat terkesan diam “tutup mata”. Padahal menurut warga ini persoalan serius, karena jalan adalah ”urat nadi” kegiatan ekonomi warga desa terdampak.

Baca Juga:  Bansos Pangan Dievaluasi, Bupati Sangihe "Warning" Jangan Ada E Warung Nakal

Menurut warga setempat, aturan pengangkutan hasil tambang sebenarnya sudah diatur jelas dalam Dokumen Ijin Tambang. Pengusaha tambang harus membaca dan memahami bukan hanya mengeruk keuntungan saja tanpa peduli dengan aturan dan lingkungan.

”Tertulis dengan jelas berapa berat yang diperbolehkan, di samping itu tata cara pengangkutan agar muatan tidak tercecer di jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan lainnya dengan ditutup terpal semua sudah jelas di sana,” tutur warga.

Penting juga dicermati, muatan tidak boleh melebihi kapasitas daya angkut kendaraan itu sendiri dan terpenting kendaraan truk pengangkut hasil tambang harus sesuai dengan kelas jalan yang diizinkan. “Faktanya ini yang sering dilanggar oleh pengusaha,” sambung salah seorang warga yang tak mau disebut namanya.

Lebih tegas warga menyampaikan, jika muatan sudah melebihi kapasitas dari yang diizinkan, maka wajib hukumnya bagi petugas untuk menindak tegas kendaraan tersebut. Bahkan petugas dapat melarang untuk tidak melanjutkan perjalanannya, karena di samping merusak jalan yang dilewati juga membahayakan orang lain dan pengemudi truk itu sendiri.

“Seharusnya aparat berwenang melakukan tindakan tegas sebagaimana dimaksud ayat (1) melarang pengemudi meneruskan perjalanan jika muatan lebih 5 persen dari daya angkut kendaraan yang ditetapkan dalam buku uji,” ucapnya menyayangkan.

Baca Juga:  Ada "Biaya Siluman" dalam Program Prona di Desa Benteng Ciampea Bogor, yang Bongkar Warga

Sementara, Ketua Wangsa Keling, Imam Maliki juga menyayangkan kejadian yang selalu hampir sama akibat adanya aktifitas tambang, dimanapun tempat kasusnya, pasti imbasnya salah satunya jalan rusak. Salah satu penyebab adalah angkutan hasil tambang melebihi tonase.

“Itu kan jalan milik pemerintah daerah, jika rusaknya diakibatkan kelebihan muatan tentunya pihak terkait seharusnya melakukan tindakan seperti Dishub, Binamarga atau yang terkait lainnya dan pengusaha tambang yang menyebabkan jalan jadi rusak perlu bertanggung jawab,” ucapnya. Al Arif/Sigit – Purbalingga

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0