GSVL Warning Masyarakat Kota Manado: “Waspadai Cuaca Ekstrim!!!” – Bhayangkara Nusantara
GSVL Warning Masyarakat Kota Manado: “Waspadai Cuaca Ekstrim!!!”

GSVL Warning Masyarakat Kota Manado: “Waspadai Cuaca Ekstrim!!!”

 45 total views,  1 views today

ANOMALI cuaca adalah sebuah gejala alam yang bersifat ekstrim dan terkadang tak dapat diprediksi, datangnya tiba-tiba dan berlalu begitu cepat, meninggalkan kerusakan luar biasa parahnya dan yang tak terduga sebelumnya.

Lalu, apa penyebab dari semua itu, apakah alam yang harus disalahkan atau saling lempar kesalahan dan mengkambing-hitamkan? Lalu siapa yang bertanggungjawab ketika bencana melanda sebuah wilayah atau kawasan?

Sementara kerusakan ozon di lapisan stratosphere yang berada di ketinggian 50 kilometer dari bumi semakin mengkhawatirkan. Masyarakat pun diminta untuk memulai aksi penyelamatan ozon dengan tidak membeli barang-barang dan perangkat elektronik yang mengandung bahan perusak ozon (BBP bongkahan es di wilayah tersebut makin mencair).

Namun dibalik kekuatiran tersebut ada berita gembira yang menyebutkan lapisan ozon terus berangsur membaik dan memiliki potensi untuk pulih sepenuhnya, menurut sebuah studi baru.

Dikutip PikiranRakyat-bekasi.com dari Independent Jumat, 27 Maret 2020 sebuah makalah ilmiah, yang diterbitkan di Jurnal Nature menandakan aktivitas langka dalam memulihkan kerusakan lingkungan dan menunjukkan bahwa aktivitas global yang diatur dapat membuat perubahan.

Sementara itu lapisan ozon merupakan perisai pelindung di stratosfer Bumi yang menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet yang menjangkau manusia dari Matahari. Tanpa lapisan ozon, hampir tidak mungkin apa pun bisa bertahan di planet ini.

Di masa lalu, penggunaan zat oleh manusia Chlorofluorocarbon (CFC) menyebabkan kerusakan lapisan ozon yang mengancam jiwa sehingga pada tahun 1987, sebuah perjanjian internasional yang disebut “Protokol Montreal” diadopsi untuk melarang mereka.

Akibat pemanasan global memunculkan kekuatiran terhadap benua Antarktika. Antarktika merupakan benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi, hampir seluruhnya terletak di lingkar Antarktika dan dikelilingi Samudra Pasifik, Samudra Atlantik dan Samudra Hindia. Dengan luas 14.2 juta km², antarktika adalah benua terluas kelima setelah Eurasia, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan Wikipedia. Penduduk: tidak ada penduduk tetap (2015); ~ 5.000 penduduk tinggal sementara

Baca Juga:  Terpapar Covid Meningkat Tajam Sepekan Terakhir, Bupati Klaten Terbitkan Perbup Prokes

Perbedaan Antartika di Kutub Selatan dan Arktik di Kutub Utara Avisena Ashari Kamis, 10 Januari 2019 | 17:25 WIB.

Di mana penguin tinggal, Arktik atau Antartika? (MaxPixel’s contributors)
Bobo.id – Meski tinggal di bawah garis ekuator, kita cari tahu apa itu Kutub Selatan dan Kutub Utara. Di Bumi ada dua kutub, yaitu Selatan atau Antartika dan Utara atau Arktik.

Arktik asalnya dari bahasa Yunani arktikos, yang artinya utara. Sementara itu Antartika berasal dari kata antartikos, yang artinya lawan dari utara. Ada perbedaan yang bisa membantu kita agar tidak tertukar antara keduanya, Baca Juga : Beruang Grolar, Hasil Persilangan Beruang Grizzly dan Beruang Kutub

Kutub Utara, di sini tidak ada penguin, namun ada beruang kutub, artinya ini di Arktik (MaxPixel’s contributors). Wilayah Kutub Utara atau Arktik adalah lautan yang dikelilingi oleh daratan,

Kemudian, di Arktik ada beruang kutub, namun tidak ada penguin. Lautan di Arktik tertutup oleh lapisan es, yang dikelilingi oleh permafrost. Permafrost adalah lapisan tanah tebal yang beku.

Terkait peringatan bencana yang disebabkan oleh perubahan cuaca ekstrim, Pemerintah Kota dalam hal ini Walikota Manado Vicky Lumentut memberi warning kepada setiap penduduk Kota Manado yang menghuni planet bumi bahwa bencana dapat terjadi dan datang kapan saja.

Namun demikian, peringatan pemerintah tanpa dibarengi oleh tata-kelola managemen lingkungan yang baik maka peringatan tersebut menjadi tidak berarti ketika bencana terjadi.

Seyogianya peringatan tentang cuaca ekstrim harus dibarengi kerja nyata semua pihak dan dilakukan secara terpadu, menyeluruh dan komprehensif, melibatkan semua stakeholder terkait dan pemangku kekuasaan untuk memperbaiki atau merekonstruksi kembali lingkungan hutan yang babak-belur oleh ulah manusia itu sendiri disertai tindakan tegas terhadap perusak lingkungan.

Hanya kemauan politik pemerintah yang mau menyatakan keberpihakan terhadap kelestarian lingkungan, habitat dan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, sumber daya kelautan agar ekosistim alam dapat terjaga dengan baik adalah merupakan langkah bijak dalam mencegah bencana, atau setidak-tidaknya ada upaya edukasi secara terus-menerus kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga, memelihara dan merawat lingkungan alam sekitar sebagai sebuah langkah untuk mengeleminir potensi dan dampak bencana.

Baca Juga:  Ketersediaan Air Bersih Persoalan Utama di Kota Tomohon

Perlu kesungguhan, keseriusan dan ketegasan pemerintah buat siapa saja, baik yang disebut korporasi atau orang per orang yang merambah, membabat, menguasai dan merusak lingkungan hutan, pembuangan limbah pabrik dan limbah B3 di aliran sungai atau dilepas pantai, dijatuhi sangsi tegas tanpa pandang bulu.

Sementara bukan rahasia lagi kalau sampai saat ini masih ditemukan sejumlah pabrikan baik skala kecil, menengah dan besar cenderung mengabaikan proses pengelolaan limbah yang benar berdasarkan aturan yang berlaku, juga termasuk lemahnya aspek pengawasan sehingga pembuangan limbah di daerah aliran sungai dan lepas pantai masih terus berlangsung.

Sementara global warming (pemanasan global) menjadi isu sentral saat perhelatan World Oceon Conference (WOC) Konferensi Negara Negara Kelautan Sedunia, Mei 2009 di Manado, Sulawesi Utara, bukan karena Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur saat itu mampu menghadirkan puluhan armada tempur, baik laut maupun udara, termasuk kehadiran Kapal Induk Negeri Paman Sam yakni, USS George Washington, tapi lebih pada agenda menyelematkan terumbu karang (corral) dan isu global warming.

Selain karena efek rumah kaca, gas buang CO2 kendaraan bermotor, pabrik, perusakan dan eksploitasi terumbu karang, yang berfungsi menyerap karbondioksida, termasuk eksploitasi, perambahan dan pembabatan hutan yang dilakukan pihak korporasi maupun orang perorang menjadi faktor utama menurunnya kualitas lingkungan.

Mencairnya es di benua Antartika, dan Arktik bakal memunculkan gelombang pasang yang maha dahsyat dan sejumlah kawasan akan tenggelam dan saat ini tengah berlangsung.

Semua itu terjadi akibat rusaknya terumbu karang, eksploitasi hutan yang tak terkendali termasuk efek rumah kaca harus dan penggunaan barang-barang elektronik mengandung chlorofluorocarbon (CFC) yang merusak ozon menjadi perhatian serius semua pihak di dalamnya mereka yang disebut pemangku kekuasaan tidak hanya sekedar memperingatkan tentang kewaspadaan adanya anomali iklim/cuaca ekstrim yang bermuara menjadi bencana dahsyat, tetapi menindak tegas setiap perusak lingkungan.

Baca Juga:  SK Terindikasi Disalahgunakan Oknum, Para Anggota BPD Desa Jayamulya Buka Suara

Meskipun belum menunjukan upaya serius untuk membenahi amburadulnya lingkungan, Walikota Manado DR. Ir. GS. Vicky Lumentut, SH, M.Si, DEA di setiap kesempatan terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada dengan cuaca ekstrim saat ini, hujan deras disertai angin kencang dapat saja tiba-tiba terjadi

Imbauan Walikota juga ditujukan khususnya kepada masyarakat yang menetap dan tinggal di bantaran sungai ataupun di wilayah rawan longsor, diingatkan agar tetap waspada. Berhati-hati di, jalan baik yang menggunakan roda dua dan empat.

Bagi para camat, lurah dan kepala lingkungan pantau keadaan wilayah dan laporkan juga berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait. Johny Lalonsang – Sulut

Komentar Anda

Bagaimana Reaksi Anda?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1