Di Desa Ini Ada Indikasi Penjualan Wanita, Ada yang Usia di Bawah Umur Putus Sekolah – Bhayangkara Nusantara
Di Desa Ini Ada Indikasi Penjualan Wanita, Ada yang Usia di Bawah Umur Putus Sekolah

Di Desa Ini Ada Indikasi Penjualan Wanita, Ada yang Usia di Bawah Umur Putus Sekolah

 455 total views,  3 views today

PRAKTEK penjualan wanita di Kabupaten Indramayu untuk dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK) ke luar daerah baru-baru ini santer terdengar. Indikasi dan dugaan ini bukan tanpa dasar. Pasalnya dari beberapa sumber dan informasi masyarakat yang layak dipercaya terkait dugaan tersebut sangat menguatkan.

Salah satunya terjadi di Desa Rancamulya, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu. Di desa ini, dugaan praktek trafficking kabarnya banyak terjadi pada gadis yang masih di bawah umur bahkan putus sekolah.

Rus, warga Desa Rancamulya Gabuswetan membenarkan hal itu. Bahkan tanpa sungkan dan malu, ibu rumah tangga ini juga mengakui kalau anaknya juga ikut menjadi PSK di luar daerah.

“Betul Pak, anak saya namanya Bunga (bukan nama sebenarnya-red.), masih bocah anak-anak jadi PSK di Pekan Baru, Riau Sumatera bersama anaknya Pak Kel, namanya LN, dia juga sama seumuran anak saya,” tuturnya baru-baru ini.

Baca Juga:  Pilkada Tomohon Memanas, Masyarakat Tolak "Dinasti Eman" Berkuasa?
Baca Juga:  Camat Bojong Sebut Kades Cikeris Tukang Sulap Profesional

Rus juga mengaku hal itu dilakukan lantaran terpaksa. “Dengan Keadaan terpaksa Pak, karena anak saya putus sekolah dan ekonomi saya terpuruk saat itu,” ungkap Rus.

Bunga sendiri menurut pengakuan Rus, baru berusia 16 tahun, sama dengan temannya LN. “Keduanya itu dibawa Pak KLM dari Desa Rancamulya, Gabuswetan,” lanjut Rus.

Sementara saat dikonfirmasi di kediamannya terkait hal ini, KLM mengakui. “Ya, memang betul Pak, saya yang bawa anak-anak itu untuk dipekerjakan di tempat kakak saya di Pekan Baru Riau,” katanya, Rabu (6/1/21).

Namun KLM membantah kalau wanita yang dipekerjakannya masih di bawah umur. “Itu gak benar kalau anak yang saya bawa belum cukup umur. Buktinya dia sudah punya Kartu Tanda Penduduk (KTP). Anak-anak yang saya bawa sesampainya di Pekan Baru langsung diperiksa pihak kepolisian di Sumatera sana, kolos gak ada masalah,” kilahnya,

“Pada pokoknya, kesimpulan saya, sekiranya anak yang saya bawa ke tempat lokalisasi di Pekan Baru tersebut tempat kakak saya, syarat mutlak punya KTP, itu saja,” tambahnya.

Yang jadi masalah dan sorotan publik adalah, masalah putus sekolah di bangku SMPN dengan kepemilikan KTP. Ironisnya lagi banyak masyarakat beranggapan ada yang janggal terkait legalitas KTP yang dimiliki, apakah asli atau palsu.

“Ini lantaran masih bawah umur, dan siapa yang diduga buat Identitas tersebut,” kata salah seorang tokoh masyarakat Desa Rancamulya tanpa bersedia menyebutkan namannya. Atim – Indramayu

Komentar Anda

Bagaimana Reaksi Anda?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
2