Di Balik Janji dan Ancaman Allah

Di Balik Janji dan Ancaman Allah

 439 total views,  12 views today

Oleh: Purwanto*)

Kewajiban dan tugas inti dari seorang manusia sebagai khalifah di bumi adalah menyembah Allah subhanahu wa ta’ala semata serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Firman Allah ta’ala ;
وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون

Artinya: ”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”(Qs al-Zariyat ayat 56).

Makna ayat “Allah mengabarkan bahwasanya Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya, dan ini merupakan hikmah dari penciptaan mereka”.

Ibnu kastir mengatakan beribadah kepada Allah adalah taat kepada-Nya dengan menjalankan peintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, dan itu adalah hakikat agama islam, karena Islam bermakna kepasrahan kepada Allah ta’ala yang mengandung didalamnya puncak ketaatan, kerendan dan ketundukan .

Ayat di atas mengisyaratkan tujuan dari penciptaan manusia yaitu beribadah kepada penciptanya. Ibadah maknanya kerendahan dan ketundukan yang disertai dengan cinta.

Maka barangsiapa yang mentaati-Nya niscaya mendapatkan balasan yang sempura berupa kebaikan-kebaikan, dan barangsiapa yang memaksiati (yakni tidak taat kepada Allah) niscaya mendapatkan azab yang keras.

Allah mengabarkan bahwa diri-Nya tidak butuh kepada para hamba, akan tetapi para hamba itulah yang butuh kepada Allah dalam semua keadaanya, karena Dia adalah pencipta dan pemberi rezeki mereka.

Allah adalah dzat yang Maha Adil, semua ketetapan-Nya berlandaskan pada keadilan-Nya.

Firman Allah ta’ala:
ولا تستوي الحسنة ولا السئة

Artinya:” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan” (Qs al-Fusshilat ayat 34)

Firman Allah ta’ala:
واتقوا يوما ترجعون فيه الي الله , ثم توفي كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون

Artinya :”Dan takutlah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak didzalimi” (Qs al-Baqarah ayat 281).

Ayat ini merupakan ayat yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad shalahu ‘alaihi wa salam, bahkan disebutkan bahwa Rasullah wafat sembilan hari setelah turun ayat tersebut.

Ini menunjukkan konsep keadilan yang Allah jelaskan kepada para hambanya, dimana setiap hamba akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan amal perbuatannya.

Firman Allah ta’ala :
فمن يعمل مثفال ذرة خيرا يراه , ومن يعمل مثقال ذرة شرا يراه .

Artinya :“Maka barangsiapa yang beramal kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat balasannya, Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat balasannya”(Qs al-Zalzalah ayat 7-8).

Ini adalah balasan bagi yang berbuat baik dan jelek, walaupun yang dilakukan adalah sebesar dzarrah, maka itu akan dibalas. Maka lebih pantas lagi jika ada yang beramal lebih dari itu dan akan dibalas.

Baca Juga:  Walikota Pimpin Ibadah Pentahbisan Renov Gereja Abigail Rutan Manado

Firman Allah ta’ala:
ووجدوا ما عملوا حاضرا ولا يظلم ربك أحدا

Artinya:”Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)” (Qs Al Kahfi ayat 49)

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr As Sa’di : ”Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walaupun sedikit, begitu pula menunjukkan ancaman bagi yang beramal jelek walaupun itu kecil”

Firman Allah ta’ala :
والوزن يومئذ الحق فمن ثقلت موازنه فأولئك هم المفلحون, و من خقت موازنه فأولئك الذين خسروا أنفسهم بما كانوا بأياتنا يظلمون .

Artinya :”Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikanya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan selalu mengingkari ayat-ayat Kami” (Qs al-A’raaf ayat 8-9).

Yakni timbangan untuk menimbang amalan seorang hamba pada hari kiamat, dan tidak ada seorang pun yang didzolimi .

Allah akan meletakkan timbangan pada hari pembalasan dan tidak ada seorangpun yang akan dirugikan, karena itu barangsiapa yang datang menghadap Allah dengan membawa sekecil dari kebaikan maka iapun akan melihat balasannya, sebagaimana yang datang menghadap Allah dengan membawa sekecil dari keburukan, maka iapun akan melihat balasannya.

Di dalam ayat Allah menyebutkan Al-Mizan yang berarti timbangan, secara bahasa Mizan adalah alat untuk mengukur, dan yang dimaksudkan Mizan di sini yaitu Mizan yang memiliki dua daun timbangan yang nyata dipasang untuk menimbang amal para hamba setelah dihisab, penetapan amal dan penyodoran kepada anak Adam.

Di sini terlihat kemaha-adilannya Allah ta’ala dan tidak ada seseorangpun yang terdzolimi. Dia mendatangkan semua amalan manusia sekalipun seberat satu dzarroh, untuk menunjukkan beratnya balasan setimpal dengannya. Allah mengunakan timbangan karena ini adalah alat ukur yang paling akurat.

Di antara prinsip aqidah muslim adalah beriman terhadap hari pembalasan, dalam al-Qur’an Allah sebutkan dengan kalimat Yaumud dῑn yang artinya hari pembalasan. Dinamai dengannya karena hari itu ditampakkan semua apa yang dilakukan oleh para hamba .

Qotadah menjelaskan :
يوم الدين يوم يدين الله العباد بأعمالهم
Yaumud din artinya hari dimana Allah memberi balasan seluruh hamba berdasarkan amal perbuatan mereka.

Imam Ibnu Katsir menyebutkan, ”Pada hari itu tak ada seorang pun dari hamba-Nya yang memiliki kekuasaan bersama Allah, seperti kerajaan atau kekuasaan yang dimiliki umat manusia didunia ini, yaumud din sendiri artinya hari kiamat. Pada hari itu Allah akan memberi balasan terhadap hamba-Nya atas perbuatan mereka, baik dan buruk, kecuali yang dimaafkan oleh Allah. Pada intinya balasan itu sesuai dengan jenis amalannya.

Baca Juga:  Walikota Manado Resmikan Pastori dan Ruang Serba-Guna Jemaat GMIM Ekklesia Sario Titiwungen

Firman Allah ta’ala:
هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Artinya:”Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula”(Qs al-Rahman ayat 60)

Karena itu, kemulian seorang hamba di sisi Allah bukan pada banyaknya harta, atau tingginya kedudukan, bukan pula dilihat pada nasab garis keturunan serta kekerabatan, akan tetapi tergantung pada banyaknya nilai-nilai ketaatan kepada-Nya. Allah Maha mengetahui dan Maha mengenal, Allah benar-benar tau siapa yang bertakwa secara lahir dan batin, atau yang bertakwa secara lahiriyah saja, namun tidak secara batin, Allah pun akan membalasnya sesuai realita yang ada .

Allah berfirman ta’ala:
من عمل صالحا فلنفسه, ومن أساء فعليها وماربك بظلام للعبيد

Artinya:”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang sholeh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya” (Qs al-Fusillat ayat 46)

Allah berfirman:
إنا هديناه السبيل إما شاكرا وإما كفورأ

Artinya:”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”(Qs al-Insan ayat 3).

Makna ayat, sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadanya melalui lisan para Rasul Kami jalan petunjuk, hingga dengan demikian jelaslah bagi mereka jalan kesesatan. Maka setelah itu ia bisa mendapatkan peunjuk ke jalan yang lurus lalu menjadi seorang hamba yang beriman dan bersyukur kepada Allah, atau menjadi sesat dari jalan yang lurus lalu menjadi hamba yang kafir dan menentang ayat-ayat Allah. Jiwa manusia di antara dua penyeru, ajakan untuk beriman kepada Allah dan hari pembalasan, ajakan untuk kufur kepada Allah dan hari pembalasan .

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat kita lihat sikap manusia terhadap janji dan ancaman sebagai berikut:

a. Kufur terhadap janji dan ancaman.
Allah berfirman:
و كانوا يقولون أ ئذا متنا و كنا ترابا وعظاما أءنا لمبعثون , أوءاباؤنا الأولون

Artinya:”Dan mereka orang-orang kafir mengatakan jika kami telah mati dan kami sudah menjadi debu dan tulang apakah kami akan dibangkitkan?. Bagaimana dengan nenek-nenek moyang kami terdahulu”(Qs al-Wqiah ayat 47-48).

Mereka menginkari hari kebangkitan, mereka berkata:” bagaimana bisa kami mati dan menjadi debu serta tinggal tulang dapat hidup kembali dari kuburan kita”. Kehidupan setelah kematian ( untuk mendapatkan balasan berupa kenikmatan ataupun azab atas amal perbuatan yang dilakkukan seorang hamba ) hanyalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, firman

Baca Juga:  Semalam, "Satu Jam Mengaji Bersama Polisi" Digelar di Mesjid Jami Al Hidayah Jakarta Selatan

Allah ta’ala :
وإذا تتلي عليه ءاياتنا قال أساطير الأولين

Artinya:”Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata;itu adalah dongengan orang-orang terdahulu” (Qs al-Qolam ayat 15),

Jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berkata” Ini adalah yang ditulis dari khurafat-khurafat orang-orang terdahulu”

Allah mencela orang-orang yang ingkar. Firman Allah ta’ala:
كيف تكفرون بالله وكنتم أمواتا فأحياكم ثم يميتكم ثم يحييكم ثم إليه ترجعون

Artinya:”Mengapa kamu kufur kepada Allah padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Qs al-Baqarah ayat 28).

Bentuk kata tanya di sini untuk menyatakan keheranan sekaligus celaan serta pengingkaran, karena tidak ada sesuatu yang menyebabkan terjadinya kekufuran disini. Bagaimana kalian ingkar terhadap keesaan Allah ta’ala dengan beribadah kepada selain-Nya, padahal telah nyata bukti pada diri kalian. Dia telah menciptakan kalian, kemudian mematikan kalian setelah ajal kalian datang, kemudian menghidupkan kalian kembali di hari kebangkitan dan mengembalikan kalian untuk mendapatkan balasan pahala atau siksa.

b. Beriman terhadap janji dan ancaman
Orang-oarng yang beriman dengan janji dan ancaman, mereka menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai pijakan dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Ayat-ayat tersebut membuat mereka meliki arah tujuan hidup yang jelas, kemana ia harus melangkah, kapan ia harus berhenti dan kapan ia harus berjalan. Termasuk konsekwensi beriman kepada Allah dan Rosul adalah membenarkan apa yang dikabarkanNya. Dan salah satu diantaranya adalah ayat-ayat janji dan ancaman yang bermakna menerima, menghargai, dan menghormati.

Termasuk beriman kepada ayat-ayat janji dan ancaman, beriman terhadap surga dan neraka. Keduanya adalah mahluk, yang Allah ciptakan sebagai balasan atas semua perbuatan hamba semasa hidup di dunia. Surga adalah tempat yang penuh dengan kebahagian, yang Allah persiapkan untuk hambanya yang beriman lagi bertakwa, di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbayangkan oleh hati manusia. Neraka adalah tempat ‘aẑab yang Allah persiapkan untuk para hambanya yang kafir lagi ẓalim, di dalamnya penuh dengan berbagai siksaan yang tidak terbayangkan oleh hati manusia. Dan para penghuni surga dan neraka kekal didalamnya untuk selama-lamanya . *) penulis adalah Penasehat Komunitas Masyarakat Cinta Polri – Komunitas Sahabat TNI – Polri (Komascipol-Kombatpol) Provinsi Lampung

Komentar Anda
%d bloggers like this: