Deklarasi KAMI Tuai Kritik dari Para Tokoh Jawa Tengah

 193 total views,  2 views today

DEKLARASI yang dilakukan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/20) lalu menuai banyak kontroversi.

Pasalnya deklarasi KAMI bertentangan dengan penanganan virus Corona atau Covid-19 dan mengundang kerumunan orang yang berpotensi memunculkan klaster baru.

Tak hanya digelar di Jakarta, deklarasi yang sama juga digelar dengan berpusat di Kota Solo di Gedung Umat Islam Surakarta, Jayengan, Serengan, Solo, Kamis (20/8/20).

Acara diikuti 21 daerah di Jateng-DIY dan mantan Panglima TNI Jenderal Purn. Gatot Nurmantyo menghadiri deklarasi KAMI di Jawa Tengah-DI Yogyakarta.

Selain mendeklarasikan pembentukan Presidium KAMI, masing-masing perwakilan daerah turut berorasi menyatakan tekad menyelamatkan Indonesia yang disebut mengalami keterpurukan.

Dalam orasinya, Gatot menegaskan bahwa dirinya adalah salah satu pendiri KAMI. Ada sejumlah tokoh nasional yang bersama dirinya menginisiasi pendeklarasian KAMI pada 18 Agustus 2020 lalu, seperti Bachtiar Chamsyah, MS Kaban, Rochmat Wahab dan Din Syamsudin.

“Saya bukan ikut-ikutan. Saya yang mendirikan bersama para tokoh lainnya,” kata Gatot dalam orasinya.

Dia mengaku tergerak untuk mendirikan KAMI setelah muncul pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Dia pun kembali teringat janjinya saat menjadi tentara, yakni untuk setia terhadap NKRI.

Menanggapi deklarasi tersebut Khanif, Ketua KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Wilayah Jateng turut menyayangkan hal tersebut.

“Munculnya Deklarasi KAMI di tengah kondisi wabah Covid-19 dinilai kurang bijaksana, seharusnya para tokoh bisa ikut membantu pemerintah dan rakyat untuk bisa berjuang menghadapi wabah Covid-19 yang menyengsarakan rakyat,” ucap Khanif, Jumat (21/8/20).

Senada dengan Khanif, Ketua Umum Badko HMI Jateng-D.I.Y, Sahal Munir mengatakan tidak bisa membantu memulihkan keadaan, maka jangan memperburuk keadaan demi menyelamatkan Indonesia.

Baca Juga:  HUT ke 74 Bhayangkara, Personil Terbaik Dapat Penghargaan, Kapolri Lontarkan Guyonan

“Jika KAMI didirikan hanya untuk merusak tatanan pemulihan masyarakat Indonesia yang sedang kerja bersama, lebih baik KAMI tidak dilahirkan,” ucap Sahal, Jumat (21/8/20).

Ungkapan kekecewaan yang sama terhadap aksi KAMI datang juga dari Koordinator Wilayah IV PP GMKI MB 2018-2020 Malfred Adi Lobo. Seharusnya para elit memberikan teladan ketika membangun narasi dan nalar publik dalam kebebasan berekspresi.

“Bukan menonjolkan hasrat merebut kekuasaan saat deklarasi KAMI. Jika hasrat ingin berkuasa yang lebih dominan apa yang dapat diharapkan rakyat dari para elit yang demikian,” ucap Malfred, Jumat (21/8/20).

Begitu juga yang diungkapkan Ketua DPD IMM Jateng Badrun Nuri yang tidak sependapat dengan deklarasi KAMI, terlebih ditengah kondisi Covid-19 ini.

“Akan lebih baik jika kita terus berfokus saja pada penanganan Covid-19, termasuk mendukung upaya pemerintah dalam menaggulanginya,” ucap Badrun, Jumat (21/8/20).

Menyelamatkan Indonesia yang sedang dilanda Corona bisa dengan berbagai langkah, seperti menyediakan vaksin, mencegah perluasan dampak dengan menjaga jarak, mulai praktik pola hidup baru yang lebih sehat, hingga membantu masyarakat agar tetap berfikir tenang-positif dan berkarya produktif.

Maka Jika tidak bisa membantu memulihkan keadaan alangkah baiknya tidak memperburuk keadaan. Tim Jateng

Komentar Anda

Bagaimana Reaksi Anda?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1