Buntut Kasus Wanda Clara, 2 Penyidik Polresta Kota Depok Dilaporkan ke Propam, Tapi Belum Jelas Sangsi Hukumnya | Bhayangkara Nusantara

Buntut Kasus Wanda Clara, 2 Penyidik Polresta Kota Depok Dilaporkan ke Propam, Tapi Belum Jelas Sangsi Hukumnya

 335 total views

MODUS penipuan dalam bentuk kerjasama bagi hasil dengan janji keuntungan berlipat ganda nampaknya sudah sering terjadi, tak hanya dalam bentuk bagi hasil usaha, tapi juga pinjaman perorangan yang pada prakteknya semua fiktif belaka alias penipuan terencana yang memang sudah biasa dilakukan para pelakunya.

Tak jarang, dari aksi tipu sana sini alias “tipsani” tersebut, banyak korban yang mengalami shock, stress berat, bahkan berujung kematian lantaran “angin surga” yang dijanjikan pelaku tak kunjung terbukti.

Seperti yang terjadi pada Juliana Nguru Diu,warga Komp. Paspampres Blok L, No. 162, RT 008/008, Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Wanita yang kesehariannya mengurus rumah tangga ini harus menelan “pil pahit” karena uang yang ia pinjamkan kepada pelaku, Wanda Clara tak kunjung kembali. Buntutnya, kasus ini masuk ke ranah hukum. Korban melaporkan pelaku ke Polresta Kota Depok dengan dengan tudingan telah melakukan penipuan.

Berdasarkan Surat Tanda Penerimaan Laporan/Pengaduan Nomor: STPLP/631/K/III/2017/PMJ/Resta Depok, Sabtu tanggal 4 Maret 2017, Juliana melaporkan kasus penipuan yang dialaminya ke Polresta Kota Depok melalui Ka SPKT – Kanit 3 SPKT yang ditandatangani Iptu Suprihatin, bahwa dirinya telah menjadi korban kasus penipuan (Pasal 378 KUHP) yang terjadi pada 23 Maret 2015 lalu di Bank BRI Jl. Margonda Raya, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok oleh pelaku, Wanda Clara. Modusnya, korban dimintakan sejumlah uang kepada Terlapor untuk pengurusan pajak penjualan rumah, yang setelah dicek ternyata semua fiktif, dengan kerugian yang dialami korban sebesar Rp. 671.000.000,-.

Baca Juga:  Merasa Prihatin, Istri Bupati Bangkalan Suapi Nenek Ini...

Kejadian ini berawal dari perkenalan pelaku dan korban saat mereka beribadah di gereja yang sama pada 2015 silam. Beberapa bulan kemudian, saat pelaku ketempatan untuk acara beribadah di rumahnya, setelah selesai ibadah, saat itulah korban mengumumkan kepada semua yang hadir bahwa dirinya memiliki rumah mewah di Lippo Karawaci dan akan mengajak jamaah gereja untuk kunjung ke rumahnya tersebut.

“Beberapa bulan kemudian dia pindah ke Pesona Khayangan, Depok dengan menyewa rumah di sana 50 juta setahun. Setelah itu saya dipanggilnya untuk main, untuk diajak jalan-jalan sama dia,” ungkap Juliana Nguru Diu kepada MBN, Selasa (26/03/2019) di bilangan Harjamukti, Kota Depok.

Kemudian sekembalinya dari salon, lanjut Juliana, pelaku mengutarakan maksudnya kepada korban, yakni meminjam uang untuk menjual rumah mewahnya yang di Lippo Karawaci dengan harga 10 – 20 miliar. Untuk meyakinkan korban, pelaku mengungkapkan pinjaman tersebut untuk digunakannya dalam pengurusan pajak penjualan rumah tersebut. Dengan alasan rumah untuk pengurusan rumah mewah itu memakan biaya yang besar.

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0