BNN: 654 Titik di Indonesia Daerah Rawan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba | Bhayangkara Nusantara

BNN: 654 Titik di Indonesia Daerah Rawan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba

 326 total views

PENYALAHGUNAAN dan peredaran gelap narkoba masih menjadi masalah pelik di Indonesia. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan, namun angka tindak kejahatan narkoba masih tergolong tinggi.

Badan Narkotika Nasional (BNN) telah melakukan pemetaan terhadap 654 titik daerah rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia. Salah satunya adalah Kota Lhokseumawe.

Berada di antara Banda Aceh dan Medan, menjadikan Lhokseumawe sebagai jalur vital distribusi dan perdagangan di kedua kota besar tersebut. Tak heran, jika Lhokseumawe dianggap sebagai salah satu kota yang harus mendapat perhatian khusus terhadap adanya tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Baca Juga:  Tegas dalam Vicon, Kapolri Minta Polda se-Indonesia Tindaklanjuti Arahan Presiden

Seperti diberitakan, beberapa hari lalu Tim BNN kembali menemukan ladang ganja tak jauh dari Kota Lhokseumawe tepatnya di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Seluas 5 hektar ladang ganja diemukan di atas ketinggian 223 mdpl. Ini bukan kali pertama BNN berhasil menemukan ladang ganja yang letaknya tak jauh dari pemukiman warga tersebut.

Kepala Biro Humas dan Protokol BNN Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono berpendapat, perlu adanya perhatian khusus bagi masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya terhadap tanaman ganja di kawasan Lhokseumawe sebagai sumber penghidupan.

“Bersama pihak swasta kita bahu membahu agar masyarakat yang masih menanam ganja dapat beralih ketanaman lain yang produktif dan memiliki nilai jual tinggi tapi tidak melanggar hukum,” ujar Sulistyo Pudjo di sela pemusnahan ladang ganja, Selasa, (3/11/20).

Sulistyo menjelaskan, BNN tengah mengembangkan program Grand Design Alternatife Developmen (GDAD) sebagai salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka suplay narkoba di Indonesia.

Program tersebut memberikan pelungan bagi masyarakat untuk mengganti tanaman ganja menjadi tanaman komoditi alternatif yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan mudah akses pasarnya.

“Untuk di Provinsi Aceh, salah satunya Gayo Lues dan Bireun, lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam ganja direplanting menjadi tanaman kopi dan jagung, selain itu masyarakatnya juga diberikan keterampilan peternakan dan itu bekerjasama dengan swasta,” Imbuh Sulistyo Pudjo.

Baca Juga:  Baharkam Polri Lanjutkan Program, 1000 Paket Sembako Dibagikan ke Warga Muara Angke

Sulistyo Pudjo menambahkan untuk upaya pencegahan, BNN juga memberi penyuluhan terhadap masyarakat dan advokasi kepada pemerintah daerah untuk turut serta dalam menyusun program kerja yang dapat memberdayakan masyarakatnya, agar tidak lagi menjadikan tanaman ganja sebagai mata pencaharian. Humas BNN/B01 – ACEH

Komentar Anda
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0