Bermoral, Prasyarat Mutlak Bagi Setiap Kandidat Presiden

Moral adalah Akhlaq, sementara pengertian Akhlak berasal dari kata Khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, adalah sifat manusia yang terdidik oleh keadaan, yang melekat pada jiwa manusia, yang melahirkan perbuatan-perbuatan yang melalui proses pemikiran, pertimbangan, analisa dan ketangkasan Wikipedia.

Menurut salah seorang ahli, sebut saja W. Poespoprojo, moralitas adalah ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia

Sementara dari pandangan seorang Toar Palilingan, moralitas adalah, nilai hakiki dan menjadi ciri setiap manusia yang berakhlak, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun juga bertalian erat dengan akhlak berarti budi pekerti, penakai, tingkah laku atau tabiat.

Sedangkan secara terminologi, moralitas berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik, seperi contohnya bisa mengkomunikasikan sesuatu dengan baik, tidak berbohong, tidak berbuat curang, selalu jujur dalam perkataan dan perbuatan.

Moralitas juga berbanding lurus dengan Visi dan Misi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’aruf Amin yakni, Revolusi Mental, yang tidak lain bertujuan membentuk manusia-manusia Indonesia yang berbudaya, berbudi pekerti luhur dan bermoral, namun sayang, moralitas sepertinya telah menjadi barang yang langkah dan tak lagi menjadi prasyarat bagi setiap calon pemimpin bangsa.

Dekadensi moral telah mengakibatkan kemerosotan akhlak (moralism degradation) seperti  politik kotor (money politics) pelacuran dan perbuatan maksiat terjadi dimana-mana yang tak lain penyebabnya adalah, akibat keseringan bahkan keranjingan nonton “film orang dewasa,

Lalu bagaimana dengan orang yang keranjingan nonton film orang dewasa ? berdasarkan hasil penelitian, Itu akan menghilangkan kemampuan kreatifitas otak dan bagi orang yang keseringan nonton film orang dewasa, lebih fatal lagi, jika nonton “film orang dewasa” seminggu sekali.

Baca Juga:  Jebakan Batman Ranperpres, Dewan Pers Ingin Jadi Lembaga Pemerintahan

Dalam kurun waktu lima belas tahun kemudian berdasarkan hasil research, akan mengalami kerusakan otak yang lebih para seperti alkoholic. Perilaku semacam ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa, dan hal itu tidak boleh terjadi, calon pemimpin bangsa harus memiliki kepribadian yang baik, bermoral dan tidak tercela.

Sementara ditengah-tengah terpaan arus modernisasi, perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, moralitas sejatinya harus menjadi ciri setiap manusia yang berakhlak dan juga menjadi  sebuah pra-syarat bagi siapa saja yang ingin tampil sebagai calon pemimpin bangsa/daerah atau mereka yang ingin berkiprah di dunia legislative.

Semua tokoh agama baik Pendeta, Gembala, Imam, Uztad pasti memiliki pandangan dan pendapat yang sama tentang arti dan makna dari sepenggal kata yang lazim disebut orang moralitas, bukan hanya sependapat tapi juga mampu membedakan sesuatu yang yang berbau maksiat (pornography) dan dapat pula membedakan yang baik dan yang tidak baik.

Lalu bagaimana pula dengan mereka yang ingin tampil menjadi pemimpin bangsa tapi memiliki moral bobrok alias amoral dan tak berakhlak ?

mau di bawah kemana bangsa ini dan apa yang bisa dilakukan dengan orang yang tidak lagi memiliki kemampuan kreatifitas otak karena keseringan nonton “film orang dewasa”

Bukan cuma kehilangan kreatifitas otak, tapi otaknya bakal mengalami kerusakan dan ujung-ujungnya bangsa ini bakalan terancam bubar karena pemimpinnya tak dapat lagi dapat berpikir sehat, bisa jadi maksiat dianggapnya baik, dan yang baik di anggapnya tidak benar.

Itulah sebabnya dalam memilih calon pemimpin bangsa, publik harus mengetahui persis latar belakang, rekam jejak dan sepak terjang kandidat, ia haruslah sosok yang berintegritas, berkapasitas, berbobot, berwawasan luas, punya ide-ide brilyan, memahami dan menguasai masaalah ekonomi, geo politik dan geo strategi, berpikiran global, bebas korupsi dan tidak pernah kesandung pada hal-hal yang berbau maksiat.

Baca Juga:  Ketika "Sapu Kotor" Bersihkan Lantai MK yang Dikotori Politisasi

Banyak pihak menyebut bahwa, sosok yang paling tepat untuk memimpin bangsa ini adalah pribadi yang sering di sebut-sebut orang sebagai penculik, pelanggar HAM berat, tapi itu cerita lama yang di “daur” ulang seolah-olah menjadi sesuatu yang baru tapi sesungguhnya itu tak terbukti dan tak pernah di giring ke peradilan HAM.

Dia adalah sosok berprestasi, dalam diam dan senyap menolong serta membantu orang lain, tak ingin publisitas dan tak mau perbuatan baiknya di umbar-umbar ke publik. Berbuat baik tanpa publitas, tak berharap balasan, adalah ciri-ciri dari pribadi yang tulus, ikhlas dalam berbuat baik dalam menolong sesama.

Kedepan bangsa ini bakal di perhadapkan dengan persoalan ekonomi, sebagaimana yang disebutkan Presiden Jokowi, menurutnya, perekonomian dunia akan semakin parah (gelap), krisis pangan dan perang antara Rusia dan Ukraina makin membuat perekonomian sejumlah negara dan dunia di ambang kebangkrutan.

Menyikapi persoalan dunia yang semakin kompleks itu, maka negeri ini butuh pemimpin yang benar-benar visioner, menguasai dan paham dengan masaalah ekomomi, serta menguasai persoalan global, unggul dalam diplomasi politik luar negeri, memiliki semangat kebangsaan, cinta tanah air, patriotik, nasionalisme dan pluralitasnya teruji, juga mampu tampil di percaturan global. (John Lalonsang)

Komentar Anda