Tulude dalam Perspektif Adat dan Budaya

Tulude dalam Perspektif Adat dan Budaya

 6 total views,  6 views today

Kalau tak faham dengan adat- istiadat dan budaya jangan bertindak seperti orang yang sok tahu dan pintar, adat-istiadat dan budaya tidak hanya sekedar dipahami sebagai sebuah atraksi atau pertunjukan tapi lebih pada esensi dan makna sebuah peradaban, nilai-nilai kultural dan religisme yang terkandung di dalamnya.

Pesta adat Tulude merefleksikan ungkapan syukur, terima kasih tapi juga penyembahan serta pujian dan hormat kepada Allah Bapa di Sorga yang oleh karena Kemurahan-Nya masih memberi kesempatan menapaki hari-hari hidup dikembara perjalanan anak manusia sehingga masih dapat melangkah dan menikmati kasih dan kemurahan Tuhan di tahun yang baru.

Demikian pula halnya kehidupan anak manusia ditahun sebelum dianugrahi Tuhan berkat suka-cita, damai sejahtera, kedamain dan diluputkan dari mala-petaka dan bencana alam.

Itulah sebabnya Tulude harus dipahami sebagai sebuah arak-arakan ritualistik dalam kehikmatan memohon kepada Tuhan agar diluputkan dari berbagai tragedi kemanusian (Genoside), mala-petaka, bencana alam, banjir dan tanah longsor.

Pesta Adat Tulude gelarannya harus dipersiapkan secara matang oleh orang-orang yang tau, menguasai, mengerti dan faham secara detil episode per episode dari seluruh rangkaian acara Tulude, tanpa ada kesalahan sedikit pun.

Karena itu menurut tokoh dan Pengemuka Adat, Aldus Hirohiung Pesta Adat Tulude tidak boleh dipercayakan kepada orang yang tidak menguasai budaya dan adat-istiadat Nusa Utara seutuhnya, apalagi kepada orang yang tidak ada hubungan darah atau keturunan, Sangihe, Talaud, Sitaro.

“Dan itu hanya dimiliki dan dikuasai oleh orang yang berasal dari Nusa Utara khususnya yang beasal dari Suku Sangihe,” tegas Hirohiung, ketika dimintai pendapatnya oleh awak media bhayangkaranusantara.com beberapa waktu lalu.

Hal penting lainnya yang perlu saya ingatkan bahwa Penetapan dan pelaksanaan sebuah iven apalagi menyangkut Pesta Adat Tulude tak ada kata main-main, Tulude bagi tokoh-tokoh Nusa Utara bila hari dan tanggal pelaksanaan telah ditetapkan tak ada kata atau, bahasa penundaan itu ‘Pamali’ namanya,” tandas Hirohiung

Baca Juga:  Penyaluran 1200 BST di Kecamatan Gladagsari, Boyolali

Menurutnya bersyukur, berdoa serta memohon pertolongan serta perlindungan kepadaTuhan tak mengenal waktu dan tempat, dimana dan kapan kita pergi dan berada dan, dalam segala situasi apa pun, mau suka, duka, senang atau dalam penderitaan, pergumulan hidup, hampa, tak berdaya, melarat, miskin sekalipun, beruntung dan tak beruntung, ditimpah bencana, malapetaka dan hal-hal yang tidak meng-enakan, bersyukur harus dilakukan dalam segala hal,” tandasnya.

Menurutnya, secara pribadi saya berharap agar Pesta Adat Tulude, hanya nama Tuhan yang dipuja, dipuji dan disembah bukan nama manusia atau pejabat sekalipun bahkan cenderung dibalut oleh kepentingan politik tertentu sehingga tidak akan ber-ekses atau berdampak buruk, bagi penghormatan dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya dan adat istiadat sebuah daerah.

Dan semoga pula, bencana dasyat tidak akan melanda daerah ini dikarenakan, sebuah hajatan yang sarat pesan untuk mengucap syukur dalam situasi dan kondisi apa pun terkadang pemaknaannya tak sesuai dengan maksud dan rencana Tuhan.

Manusia dapat saja ber-ikhtiar atas semua cita-cita, rencana, harapan dan kerinduan dapat terwujud tapi, persoalannya, apakah dalam segala sesuatu, Nama Tuhan Yang Diagungkan, Dibesarkan dan Dimuliakan atau sebaliknya, yang diagung-agungkan nama manusia.

Padahal esensi dan makna religius dari sebuah perhelatan Pesta dan Upacara Adat Tulude adalah memohon pertolongan dan perlindungan kepada Yang Maha Besar Tuhan, dikesampingkan karena lebih berorientasi pada mengangungkan nama manusia dengan segala hakekatnya,” ucap Hirohiung

Penulis : Johny Lalonsang

 

Facebook Comments
%d bloggers like this: