Sulut dalam Dilema PSBB “Bak Buah Simalakama”

Sulut dalam Dilema PSBB “Bak Buah Simalakama”

AYAH makan, Ibu mati, tidak dimakan, Ayah mati, dilematis. Tapi itulah pilihan dan harus memilih satu di antara dua pilihan yang kedua-duanya memiliki konsekwensi yang tidak jauh berbebeda, berat rasanya bersikap ketika dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit.

Bak berada di persimpangan jalan, ke kiri atau ke kanan, ke kanan mungkin akan menemukan jawaban terbaik, sementara ke kiri mungkin arah yang salah, demikian sebaliknya. Jawabannya terletak pada kemampuan seorang pemimpin yang berani mengambil sikap di tengah-tengah kegentingan, tanpa mengulur-ulur waktu.

Diakui, setiap perjuangan butuh pengorbanan dan harus ada yang dikorbankan, demikian pula halnya dengan penanganan, pengendalian dan pencegahan terhadap penyebaran wabah Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang kian merebak di berbagai penjuruh bumi harus ada langkah nyata pemerintah tanpa tergiring opini debat kusir seputar PSBB.

Bagaimana dan seperti apa langkah pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus yang telah membuat banyak jiwa meregang nyawa akibat terinfeksi virus Corona tidak harus menunggu berapa banyak orang mati, atau terpapar/terinfeksi virus Corona kemudian menetapkan satu wilayah sebagai daerah transmisi atau episentrum penyebaran Covid 19 yang dinilai telah melebihi batas toleransi.

Filosofi “Sedia Payung Sebelum Hujan”, masih sangat relevan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dengan tingkat kemajuan tekhnologi yang semakin canggih di satu pihak, namun di sisi lain mengandung makna yang sangat dalam bagi pemerintah untuk melakukan langkah antisipasi terkait mitigasi bencana dilakukan sedini mungkin agar dapat mengeliminir jumlah korban.

PSBB, memang sebuah pilihan yang sulit tapi, tak ada alasan lagi buat Pemprov Sulut untuk menunda-nunda penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanya karena alasan ekonomi semata.

Baca Juga:  Sudahi Polemik Lockdown

Pandangan parsialitas dalam memahami sebuah persoalan akan semakin membuat pemerintah ragu dalam bertindak dan pada akhirnya korban akan terus bertumbangan karena virus Corona.

Lebih baik mencegah ketimbang mengobati, interval waktu penerapan PSBB dalam hitungan 14 hari, adalah sebuah interval waktu yang cukup untuk memutus mata-rantai penyebaran Covid 19. Adalah sebuah keniscayaan yang sungguh, jika masyarakat patuh dan disiplin dalam mentaati Protokol Kesehatan

Bekerja, belajar dan beribadah di rumah saja, keluar rumah hanya pada hal-hal penting dan mendesak dan tetap menggunakan masker, jaga jarak fisik (phsycal distancing) cuci tangan setiba di rumah diyakini virus Corona akan mati dengan sendirinya karena tidak lagi tersedia sarana atau wadah penyebaran virus Corona.

Tenggang waktu 14 hari penerapan PSBB harus dibarengi tindakan tegas pemerintah dengan tanpa ada pengecualian sedikit pun seperti pelarangan ibadah di rumah-rumah ibadah sebut saja, Mesjid, Gereja, Pura, Vihara dan Klenteng yang dihadiri banyak umat sangat berpotensi terjadi penularan secara masal dan itu sangat berbahaya.

Tidak ada lagi sholat berjamaah di masa pandemi Covid-19 atau ibadah yang dihadiri banyak umat, beribadah di rumah tidak akan mengurangi sedikit pun makna dan esensi dari sebuah keyakinan yang setiap saat dapat menunaikan ibadah sekali pun, di tengah hutan rimba atau pun di situasi peperangan tanpa harus ke Mesjid atau ke Gereja.

Protokol Kesehatan, bukan buatan Presiden Joko Widodo atau Pemerintah Indonesia, tapi merupakan rekomendasi World Health Organisation (WHO) sebuah Badan/Organisasi Kesehatan Dunia di bawah naungan PBB sebagai sebuah rujukan buat semua penguasa untuk menerapkan Protokol Kesehatan.

Wuhan, Vietnam dan Korea Utara dinyatakan bebas Covid-19 bukan tanpa alasan. Keberhasilan penanganan, pengendalian dan pencegahan virus Corona tidak hanya terletak pada penerapan lockdown itu sendiri, akan tetapi lebih pada kedisiplinan dan ketaatan warga setempat mematuhi anjuran pemerintah, dibarengi tindakan tegas tanpa pandang bulu.

Baca Juga:  Telegram Kapolri Tuai Kritik, Ini Kata Pakar Hukum Pidana

Siapa pun dia, mau yang kaya atau miskin, pejabat, artis, tenaga medis, yang beragama sekalipun ditindak tegas jika melanggar aturan karantina. Virus Corona tak mengenal seseorang dari asal-usul atau agama, jika terjangkit hanya ada dua kemungkinan “matiiiiiiiiii atau sembuhhhhhhh.

Tidak ada dalam kamus, virus Corona membedakan seseorang dari latar-belakang agama, Pendeta, Panditha, Biksu dan Ustadz sekalipun, tidak ada yang kebal dengan virus yang satu ini. Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok dengan segenap kecanggihan peralatan tempur yang dimiliki dibuat tak berdaya menghadapi serangan virus yang dapat membunuh siapa saja dalam waktu singkat. Penulis: Johny Lalonsang |
Jurnalis bhayangkaranusantara.com Perwakilan Sulawesi Utara Liputan Pemkot Manado

Facebook Comments