“Sedia Payung Sebelum Hujan”, PSBB Pilihan Satu-satunya untuk Tindak Warga “Kumabal”

“Sedia Payung Sebelum Hujan”, PSBB Pilihan Satu-satunya untuk Tindak Warga “Kumabal”

“SEDIA payung sebelum hujan”, filosofi sederhana namun sarat makna dan esensinya tak’kan pernah lekang ditelan waktu.

Jangan menunggu Kota Manado ditetapkan sebagai kawasan “Zona Merah”, baru mau bertindak bak “pemadam kebakaran” di saat wabah pandemi Covid-19 makin meluas penyebarannya dan mengakibatkan ratusan atau ribuan orang terpapar virus yang sangat mematikan itu.

Hal ini diungkapkan mantan Kabag Aset Pemprov Sulut, Alex Sinaulan terkait penanganan Covid-19 di Kota Manado, Sabtu (9/5/20).

Alex mendesak Walikota Manado, Vicky Lumentut untuk melakukan kajian secara menyeluruh dan terpadu melibatkan berbagai pihak guna meyakinkan Pemerintah Pusat melalui argumentasi dan pemaparan logis dengan segala parameternya bahwa lebih baik “sedia payung terlebih dahulu sebelum semua masyarakat basah akibat kehujanan”, memang dampaknya terasa akan sangat luar biasa ketika PSBB diterapkan.

“Namun demikian tentu saya berharap pemerintah tak tinggal diam menghadapi kemungkinan terburuk sekali pun, antisipasi mutlak dilakukan agar kehidupan masyarakat tidak lebih jauh jatuh terpuruk akibat dampak wabah Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19),” kata Alex.

Untuk itu, ia mengharapkan Walikota Vicky Lumentut segera meyakinkan Pemerintah Pusat tentang penerapan Pembatasan Sosial Berskalah Besar (PSBB) di kota Manado menjadi hal mendesak untuk segera diterapkan.

Sejalan dengan pandangan mantan bendahara Gubernur era Gubernur CJ. Rantung sampai dengan Gubernur AJ. Sondakh ini berbanding lurus dengan hasil pengamatan Walikota Vicky Lumentut saat melihat kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa ternyata banyak masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran dan imbauan pemerintah untuk menaati protokol kesehatan dalam memutus mata-rantai penyebaran Covid-19.

Nampak jelas terlihat masih saja ada warga yang tidak mengikuti dengan baik tentang sosialisasi yang telah “ribuan” kali disampaikan pemerintah dalam penanganan, pencegahan dan pengendalian Covid-19. Tak sedikit pula yang bersikap masa bodo, terkesan “Kumabal”, tegar tengkuk dan cenderung menentang anjuran pemerintah.

Baca Juga:  Usai Dikukuhkan, DPD FOKAN Jawa Timur Akan Gelar Road Show

Sementara ketidaktaatan sebagian warga Kota Manado lebih disebabkan oleh fanatisme agama yang dangkal dan berlebihan sehingga anjuran pemerintah tak digubris, mereka lebih taat kepada pemimpin agamanya sehingga mengabaikan anjuran pemerintah yang dianggap bukan keharusan.

“Padahal yang disebut wakil Allah di dunia adalah pemerintah bukannya Pendeta, Pandita, Biksu dan atau Ustadz,” tandas Remy Sinaulan, aktifis L-KPK Provinsi Sulut.

Persoalan lain yang merebak, yakni tentang penggunaan masker oleh seluruh masyarakat ketika beraktifitas atau bekerja di luar rumah diabaikan.

Mencermati kondisi tersebut dan melihat ketidakpastian kapan pandemi Covid 19 ini akan berakhir, Walikota mengajak partisipasi semua pihak, bersama mengkaji serta mempertimbangkan secara matang dan komprehensif. “Apakah sudah saatnya Kota Manado menerapkan PSBB?” tanya Walikota.

Pelajari dengan baik setiap konsekuensi yang ada. Sesuai Permenkes No. 9 tahun 2020, antara lain apabila Pemkot Manado mengajukan permohonan penetapan status PSBB kepada Menteri Kesehatan RI, maka wajib menyampaikan informasi tentang kesiapan pemerintah daerah.

“Dilihat dari sisi sosial budaya dan ekonomi termasuk kesiapan Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net) oleh Pemerintah Kota Manado,” imbuh-Nya. Jola – Manado

Facebook Comments