Puskominfo Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalis

Puskominfo Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalis

PUSAT Komunikasi dan Informasi Indonesia (Puskominfo) bekerjasama dengan Lembaga Tatar Sunda menggelar pelatihan jurnalistik untuk para pemula di Media Center Puskominfo, Lembah Jurig, Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Minggu (13/10/19).

Kegiatan yang diikuti sekitar 30 wartawan pemula dan beberapa pemimpin media di Group Puskominfo tersebut dibuka langsung Direktur Eksekutif Puskominfo Indonesia Diansyah Putra Gumay, SE, S.Kom, MM dengan menghadirkan narasumber jurnalis senior liputan Polri, Edy Usman.

Pada kesempatan tersebut, Diansyah selaku pimpinan Puskominfo menekankan kepada para jurnalis pemula untuk bisa menerapkan ilmu jurnalistik dalam menjalani profesinya sebagai wartawan usai pelatihan yang diberikan narasumber.

Pelatihan berlangsung serius namun santai dan dikemas dengan dialog interaktif antara peserta dengan pemateri. “Narasumber kita ini selain Sekretaris Umum Puskominfo Indonesia juga Pemred di beberapa media kita, termasuk bhayangkaranusantara.com. Tandem saya sebagai instruktur setiap mengajar di lembaga Kepolisian, Pemda dan dinas-dinas,” ujar Gumay.

Sementara dalam materinya, Sekum Puskominfo, Edy Usman memaparkan tentang “Rukun Iman Berita” yang selama ini identik dengan nama besar pemilik Jawa Pos Group, Dahlan Iskan.

“Rukun iman berita itu sesuatu yang wajib dipegang teguh oleh para wartawan dalam setiap melaksanakan kegiatan jurnalistik. Ini semacam doktrin dan pedoman kita di samping Kode Etik Jurnalis dan Undang Undang Pers. Jadi, tidak boleh ditinggalkan. Sama halnya dengan Rukun Iman yang ada dalam agama Islam, sebuah kewajiban yang gak boleh ditinggalkan,” kata Edy.

Selain itu, Edy yang juga Wakil Pemred di Buser Nusantara juga menerangkan tentang sejarah dan dasar dasar ilmu jurnalistik kepada para peserta. Ia mengatakan, jurnalistik yang selama ini dikenal asal katanya dari Perancis dan Yunani ternyata jauh sebelum itu sudah dikenal sejak zaman para Nabi.

Ia melihat, kitab suci al Qur’an itu sebagai mahakarya jurnalistik yang terindah sepanjang masa. “Kitab ini berisi firman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang dirangkum dengan baik dan sempurna mulai dari tempat dan kejadiannya oleh para Sahabat Rasul menjadi mushaf. Berarti para sahabat Rasul ini wartawan, karena tak jauh beda dengan wartawan yang tugasnya mengumpulkan data untuk dikorankan, diinfokan. Bahkan koran sendiri juga asal katanya dari Qur’an yang artinya ‘Baca,” ungkapnya.

Dengan padanan kata dan bahasa yang begitu indah, tegas dan jelas setiap peristiwanya, untuk kemudian dirangkum menjadi satu dalam bentuk kitab yang seluruh dunia kenal dengan nama al Qur’an, menurut Edy, kitab ini benar benar sempurna yang sumbernya dari Allah dan Rasulullah langsung.

Lebih jauh Edy menjabarkan jurnalistik sebagai 3 bentuk yang bisa dipahami sebagai Proses, Teknik dan Ilmu. “Seperti kita tau, setiap wartawan yang mengemas beritanya untuk dipublish itu melalui proses keredaksian, dan dalam kegiatan jurnalistik setiap wartawan wajib mengembangkan skill dan keahlian yang ia miliki dalam mengumpulkan informasi dan mengemasnya dengan bahasa jurnalistik untuk karya tulisnya yang akan dipublikasikan,” ucap Edy.

Sementara sebagai ilmu, era teknologi menuntut ilmu jurnalistik sebagai kajian juga ikut berkembang dari cara pembuatan dan penyebarluasannya. “Jika dulu koran dan majalah andalan bagi perusahaan pers, tapi sekarang saya lihat era kertas mulai tergeser. Semua hijrah main digital, striming dan online sesuai zaman dan kebutuhan masyarakat yang menuntut informasi cepat,” papar Edy mengakhiri. ED/MAR – BOGOR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *