Penyaluran BPNT di Kota Palopo Jauh Dari Harapan

Penyaluran BPNT di Kota Palopo Jauh Dari Harapan

 4 total views,  3 views today

TAHUN lalu, Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin (Dirjen PFM), Andi ZA Dulung sempat mengatakan bahwa Kementerian Sosial akan menambah jumlah bantuan dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada 2020.

“Target tahun 2020 berupa penambahan jumlah BPNT dari Rp. 110 ribu menjadi Rp. 150 ribu dengan menambahkan kebutuhan pokok lainnya. Tak hanya beras dan telur,” ujar Andi di hadapan 373 peserta Bimbingan Pemantapan Pendamping Sosial Bantuan Sosial Pangan Tahun 2019 di The Rich Hotel Yogyakarta, (22/10/2019)

Dalam acara tersebut peserta yang hadir terdiri dari para Kepala Dinas Sosial Provinsi sebanyak 11 orang, Supervisor Kabupaten/Kota 181 orang dan Koordinator Tenaga Kesejahterahan Sosial (Korteks) 181 orang.

Acara tersebut diselenggarakan agar peserta memahami pelaksanaan BPNT, memantau, mengevaluasi dan membuat laporan pelaksanaan bantuan dengan baik dan benar.

Dalam meningkatkan kualitas BPNT, Kemensos juga menggelar survei perihal bahan pangan tambahan bagi KPM. Survei telah dilakukan di sejumlah daerah, di antaranya Maros, Makassar, dan Jeneponto.

Dari survei tersebut, BPNT pada 2020 akan ditambahkan pangan bernutrisi, yaitu mencakup karbohidrat, protein dan tambahan makanan pendamping ASI dalam rangka menurunkan angka kekurangan gizi dan stunting.

Meski demikian, lain halnya dengan penyaluran BPNT yang ada di Kota Palopo, Provinsi Sulsel (Sulawesi Selatan), yang penyalurannya jauh dari yang diharapkan Dirjen PFM Andi ZA Dulung.

Di beberapa tempat di Kota Palopo, bhayangkaranusantara.com, Sabtu (29/02/2020) mendapat banyak keluhan dari KPM (Keluarga Penerima Manfaat) mengenai penyaluran BPNT yang tak sesuai harapan. Hal ini umumnya dikeluhkan beberapa agen e-warong yang dikunjungi Tim bhayangkaranusantara.com.

“Semenjak adanya BPNT yang dimulai sejak tahun 2017 sampai sekarang, kami yang selaku agen e-warong hanya menjadi tempat penitipan barang oleh suplayer, harga yang diberikan suplayer ke e- warung sama, bahkan lebih mahal dari harga eceran di pasar,” ungkap salah satu agen e-warong yang ada di Kecamatan Bara, Kota Palopo, Provinsi Sulsel.

Baca Juga:  Bangunan Tiga Lantai Roboh di Pisangan Baru Tengah, Polsek Matraman Periksa Dua Saksi

Sementara di sini tugas warung elekronik gotong royong atau e-warong yang seharusnya menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial (bansos) non tunai bagi warga tidak mampu tidak sejalan dengan sistemnya.

Karena seharusnya, setiap bantuan sosial dan subsidi yang akan disalurkan secara non tunai menggunakan sistem perbankan. Tujuannya untuk mengurangi penyimpangan.

Namun BPNT yang diharapkan itu tidak sesuai di Kota Palopo, seperti bantuan beras yang didatangkan dari suplayer adalah beras yang sebenarnya tak layak diperjual-belikan kepada KPM, karena beras tersebut bukan jenis beras kepala. Hal ini diperjelas lagi salah satu agen e-warong yang dikunjungi tim.

“Sebenarnya beras ini tak layak diperjualbelikan, karena ini bukan beras kepala, dan banyak KPM yang datang ke saya menunjukkan ke saya, kenapa beras dari suplayer agak kecokelatan dan masih banyak padinya padahal karung berasnya berlogo bulog,” ungkapnya.

Sementara suplayer BPNT Kota Palopo ketika dikonfirmasi via telp tentang harga suplayer yang menjual dengan harga eceran tidak bisa memberikan penjelasan. “Harus berkoordinasi dulu,” katanya.

Untuk menguatkan informasi, tim kemudian menyambangi gudang Bulog dan sempat bertemu dengan salah seorang petugas. Saat itu ia menjelaskan bahwa harga beras jenis tersebut di kisaran Rp. 8100/liter sampai 8500/ liter.

Hal ini berbeda dengan penjelasan salah satu e-warung yang dikunjungi bahwa dari suplier harga per liter Rp. 10.000 . Begitupun dengan telur sekitar 40 ribuan per rak. Askar – Sulsel

Facebook Comments
%d bloggers like this: