Komunitas Nelayan dan Pemuda Margasari, Serang – Banten Tolak Tegas Reklamasi Ilegal

Komunitas Nelayan dan Pemuda Margasari, Serang – Banten Tolak Tegas Reklamasi Ilegal

Masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Nelayan dan Pemuda Margasari menolak tegas adanya reklamasi ilegal yang mengakibatkan penghambatan muara sungai yang selama ini sebagai sarana nelayan Kampung Tasik, Desa Margasari Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Selasa (11/02/20).

Dalam penolakan tersebut, masyarakat nelayan dan pemuda Margasari meminta agar reklamasi ilegal segera kembali dikeruk, atau secepatnya dikembalikan lagi seperti semula.

Deklarasi penolakan dilakukan dengan pemasangan baleho atau spanduk sebagai bukti penolakan masyarakat akan reklamasi yang dibangun oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Komunitas nelayan dan pemuda, meminta pemerintah daerah agar bisa konsisten, penuh ketegasan dan serius lagi dalam persoalan ini, sebab reklamasi tersebut dinilai sudah merugikan nelayan dan masyarakat sekitar.

“Masyarakat nelayan dan pemuda menginginkan reklamasi tersebut dapat diproses secara dasar ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Kurtubi Cs, selaku masyarakat sekaligus Komunitas Nelayan Margasari.

Pihaknya juga meminta kepada pemerintah agar kembali mengkaji ulang akan sebuah dampak lingkungan, sebab adanya reklamasi itu kerusakan pada ekosistem dan habitat laut di sekitar sudah terlihat dan menyebabkan terjadinya penyempitan pada muara dan hilangnya tentang hak nelayan.

“Dulu permukaan muara memiliki luas hingga 30 meter, kini hanya menjadi 14 meter, ditambah lagi sebelumnya nelayan memiliki daratan tempat sandaran perahu seluas 9 meter. Namun adanya reklamasi tersebut, permukaan muara mengalami penyempitan dan daratan untuk tambatan perahu juga kini sudah ke urug oleh reklamasi,” imbuh Kurtubi.

Untuk ini, pihaknya meminta kepada instansi pemerintah untuk mendengar keluhan ini dan berharap keluhan ini tidak hanya diterima oleh pemerintah daerah.

“Semoga juga bisa diterima oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kelautan, sebab kami masyarakat nelayan selalu saja disepelekan oleh oknum dari pelaku reklamasi tersebut,” imbuhnya.

Pasalnya, pembatas pagar drum yang didirikan sebagai gambaran batas lahan tanah sebelum adanya reklamasi yang dipasang, ternyata tanpa dapat nelayan ketahui, terjadi pengrusakan pada pembatas itu.

“Padahal gak perlu dengan cara seperti itu, kalau reklamasi itu memiliki dokumen dan izin resmi, maka tinggal tunjukan saja pada kami selaku masyarakat,” imbuh Kurtubi.

Di sisi lain, selain dari aktivitas yang dilakukan komunitas nelayan dan pemuda Margasari, ada juga beberapa orang di antaranya yang sedang melakukan kegiatan pemasangan batu pondasi, sekaligus memasang sebuah plang atas nama hak dari ke pemilikan tanah.

Sebut saja Masturi, selaku salah satu pihak waris keluarga pemilik tanah juga menyatakan, secara etika dirinya merasa telah dirugikan oleh oknum yang menjadi pelaksana kegiatan reklamasi tersebut.

Di tempat terpisah, di sela aktivitasnya, Mamun Faruki dan Hanafi selaku nama keluarga waris mengatakan, mereka sanngat menyayangkan terhadap cara dan sikap yang dilakukan oleh pelaku reklamasi tersebut.

“Secara pribadi selaku pihak keluarga dari waris kami merasa sangat tidak dihargai,” tuturnya, selaku keluarga dari atas nama waris. M/S – Serang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *