Jembatan Sikepen Senilai 2,4 M di Kota Tomohon Terancam Ambruk

Jembatan Sikepen Senilai 2,4 M di Kota Tomohon Terancam Ambruk

Jembatan Sikepen yang dibiayai dari anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Kota Tomohon, Provinsi Sulut terancam ambruk. Ini terjadi lantaran diduga saat dibangun pada tahun anggaran 2016 lalu tidak sesuai bestek (besaran teknis).

Proyek dengan total anggaran 2,4 miliar dari Dinas PU/PR Kota Tomohon tersebut dikerjakan dan dibangun oleh pihak kontraktor di lokasi perkebunan yang bernama Sikepen, tepatnya di Kelurahan TaraTara, Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon, Sulut.

Namun sayangnya, situasi dan kondisi jembatan tersebut saat ini jika dilihat dari pembuatannya belum memiliki azas manfaat, karena akses pembuatan jembatan berujung buntu menabrak bukit sehingga tidak dibuat jalan terusan, sampai saat ini.

Jembatan tersebut pun kini mendapat sorotan berbagai pihak. Salah satunya dari Tim Lembaga KPK Sulut yang pada awal tahun 2018 lalu sempat meninjau jembatan tersebut dan mengambil dokumentasi di bawah kolong jembatan.

Lembaga KPK Sulut melihat, pada jembatan itu justru sudah nampak ada yang kropos pada pembesian dan betonisasinya. Bahkan jika berjalan di atas jembatan, getarannya sangat terasa.

Apalagi jika dilintasi kendaraan yang bermuatan, bisa saja mengakibatkan terjadinya merugikan masyarakat dan kerugian uang negara. “Untuk itu Lembaga KPK Sulut meminta aparat penegak hukum bisa melakukan penyelidikan,” kata Jemmy Singal selaku bidang Investigasi.

Bukan itu saja, Lembaga KPK Sulut juga sudah mengkonfirmasikan hal tersebut kepada pihak PU/PR Tomohon melalui Kepala Dinas PU/PR Joice Tarore, ST beberapa hari lalu.

Intinya terkait anggaran yang dialokasikan untuk pemeliharaan di bulan Desember 2019 hingga Januari 2020, yang terlihat masih adanya kegiatan pekerjaan pemeliharaan pengeboran dan penyuntikan obat untuk perekat besi dan beton yang sudah keropos.

Baca Juga:  Gayung Bersambut, Berita Air Bersih di Dua Kecamatan Tomohon Direspon Dewan Sulut, Ini Tanggapannya

“Selain itu kami juga sempat konfirmasi ke pihak pekerja di lokasi. Kata para pekerja, mereka juga tinggal ngSubkon ke pihak kontraktor. Mereka juga sempat menyebutkan pemberi subkon adalah perusahaan bernama Dinasti,” kata Jemmy kepada bhayangkaranusantara.com, Minggu (12/1/20).

Namun demikian, kata Jemmy, jawaban sang Kadis kurang memuaskan, karena dirinya baru mendengar informasi itu dari tim. “Makasih ngoni sokase tauh. Nanti kita mopangge jajarannya untuk melakukan rapat,” katanya saat itu.

Saat itu juga, kata Jemmy, Lembaga KPK Sulut dijanjikan oleh Bos sub kontraktor bahwa dirinya akan menghubungi pihak Dinasti agar bisa dikonfirmasi lebih jelas.

Namun tetap, hingga berita ini diturunkan hasilnya nihil, belum ada kejelasan perihal proyek pembangunan jembatan tersebut. Bertje – Sulut

Facebook Comments
%d bloggers like this: