Diguyur Hujan Satu Malam, Aliran Sungai Pongkeru Malili Berubah Jadi Kolam Kopi Susu

Diguyur Hujan Satu Malam, Aliran Sungai Pongkeru Malili Berubah Jadi Kolam Kopi Susu

SEPANJANG aliran hulu Sungai Pongkeru sampai Hilir Malili mendadak berubah warna. Sungai tak ubahnya bagai “kolam kopi susu”. Kondisi ini baru diketahui, setelah daerah tersebut “diguyur” hujan selama satu malam.

Berdasarkan pantauan media bhayangkaranusantara.com di lokasi Sungai Pongkeru sampai Malili, perubahan warna air sungai tersebut baru diketahui pada Minggu (10/5/20).

Kondisi pertambangan dan ilegal logging disinyalir yang jadi biang pencemaran Sungai Malili. Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah dan tindakan dari dinas terkait terhadap dampak tercemarnya Sungai Malili.

Ketua DPRD Luwu Timur, H. Amran Syam, SH ketika dimintai tanggapannya menjelaskan, kondisi terjadinya air keruh sepanjang Sungai Malili diduga akibat aktivitas pertambangan PT. CLM dan maraknya penebangan kayu secara ilegal yang dikoordinir oleh oknum tertentu.

Untuk itu ia meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kehutanan setempat untuk segera turun melakukan investigasi atas kerusakan lingkungan di daerah tersebut. “DLH dan Dishut harus segera turun,” kata wakil rakyat tersebut.

Diklarifikasi terpisah via pesan Whatapss, Kepala Bidang Penaatan DLH Kabupaten Luwu Timur, Natsir Dj menjelaskan, pihak DLH akan segera meninjau dan check sedimen pond PT. CLM di Lampia Malili.

“Kondisi kemarin semalaman Malili diguyur hujan, dan diketahui bersama bahwa hulu sungai tersebut terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kemungkinan sumber penyebab bisa dari sana,” ungkap Natsir.

Saat ini kondisi Malili dan sekitarnya tidak hujan setelah pukul 08.00 Wita tadi sampai sekarang. Artinya di bagian hulu yang hujan. Solusinya sudah perlu duduk bersama seluruh pemangku kepentingan dalam pengelolaan sungai lintas provinsi.

“Karena ini kewenangan pusat, sehingga apa yang diperbuat di bagian hulu sungai harus juga bertanggungjawab terhadap dampak yang ditimbulkan di bagian hilir. Ini sangat penting, pengelolaan secara komprehensif antar kepentingan hulu dan hilir DAS (Daerah Aliran Sungai) yang terdampak,” ungkapnya

Baca Juga:  Aparat Hukum Diminta Periksa Anggaran FDM 2019 di Luwu Timur

Nasir juga menyampaikan, pihak Pemprov Sulsel dan Sultra perlu dilibatkan dalam hal ini, karena merupakan kondisi batas wilayah dua daerah tersebut. Askar – Sulsel

Facebook Comments