Bangkalan, Sejuta Kisah Segudang Cerita: Tahta, Cinta dan Putri Mahkota

Bangkalan, Sejuta Kisah Segudang Cerita: Tahta, Cinta dan Putri Mahkota

BANGKALAN, sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur dengan Ibukota Bangkalan, terletak di ujung paling barat Pulau Madura berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur dan Selat Madura di selatan dan barat.

Secara administratif, Kabupaten Bangkalan terdiri atas 18 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 273 desa dan 8 kelurahan dengan pusat pemerintahan berada di Kecamatan Bangkalan.

Sejak diresmikannya Jembatan Suramadu, Kabupaten Bangkalan menjadi gerbang utama Pulau Madura dan salah satu destinasi wisata pilihan di Jawa Timur.

Namun siapa sangka, di kabupaten ini juga menyimpan sejuta kisah segudang cerita, mulai dari tahta, cinta ada di Bangkalan. Sejak era Bupati Fuad Amin berkuasa tahun 2003 hingga 2012, Bangkalan tak ubahnya bagai dinasti kerajaan yang menurunkan putra putri mahkota untuk duduk dalam posisi strategis, hingga kini tahta itu dipegang R.A. Latif Imron sebagai orang nomor satu di Bangkalan.

Bicara tentang kerajaan dan dinasti, Bangkalan sendiri mempunyai sejarah tersendiri. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten di Pulau Madura yang memiliki sejarah panjang dalam proses menuju pemerintahan yang diakui.

Terbentuknya kerajaan di Bangkalan jauh sebelumnya memang sudah ada, bermula dari Ki Demung dari Sampang, anak dari Aria Pujuk dan Nyai Ageng Buda. Ki Demung melakukan perantauan ke Madura Bagian Barat dan berakhir di sebuah Desa bernama Desa Plakaran, Kecamatan Arosbaya. Di Desa itu itulah Ki Demung bertemu seorang Gadis bernama Nyai Sumekar yang akhirnya dinikahi oleh Ki Demung.

Seiring perjalanan waktu, Ki Demung diangkat menjadi seorang pemimpin di Desa Plakaran. Ia dikenal sangat pandai dan mudah bergaul dengan masyarakat sehingga dipercaya untuk mengakomodir masyarakat Desa Plakaran.

Dari hasil perkawinan tersebut Ki Demung dikarunia lima orang putra yang salah satunya bernama Ki Pragolbo. Kelak, Ki Pragolbo akan menggantikan posisi orang tuanya tersebut.

Baca Juga:  Kades Tanjung Menang Bagikan Langsung Beras Penanggulangan Covid-19

Kini, cerita Bangkalan dalam beberapa tahun ke belakang tak jauh beda dengan sejarah masa lalu. Pernikahan Bupati Bangkalan R. A. Latif Imron dan Zaenab Zuraidah Latif menghasilkan buah hati yang tak jauh beda dengan kedua orang tuanya.

Nayla Firadis Latif, meski terlahir sebagai seorang wanita (gadis-red.), namun merupakan satu-satunya putri tunggal pasangan tersebut.

Sebagai “Putri Mahkota”, Nayla diyakini mewariskan semua yang dimiliki kedua orangtuanya. Mulai dari kecerdasan, hobby, bahkan jiwa sosial kemanusiaan, saat ini mulai mencuat ke permukaan.

Hal ini terlihat dari beberapa kali kegiatan bakti sosial yang diadakan “sang bunda”, sapaan Zaenab Zuraidah Latif, selama masa pandemi Covid-19 dan bulan suci Ramadan.

Sang Putri Mahkota, kerap hadir mendampingi sang bunda, terutama saat gelar bakti sosial yang diadakan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang dinaungi wanita berjuluk “Wonder Woman Bangkalan” ini.

Zaenab sendiri mengakui, mengikutsertakan Nayla dalam setiap kegiatannya dalam kaitan ingin memberikan pembelajaran, terutama membangun jiwa sosial dan kemanusiaannya agar bisa lebih peka terhadap lingkungan.

“Ini proses pembelajaran dan mengajar saya terhadap anak, dan kegiatan bakti sosial sebagai sarananya, Nayla harus terjun langsung agar memahami bahwa kita selalu hidup berdampingan dengan orang-orang yang masih membutuhkan uluran tangan kita yang memiliki ekonomi lebih. Ini bentuk rasa cinta dan sayang saya terhadap anak,” kata Ketua DPD FOKAN Jawa Timur ini.

Kehadiran “Putri Mahkota” dalam beberapa kegiatan Zaenab ini, seakan jadi spirit, menguatkannya untuk terus bergerak melangkah ke depan, menyusun kegiatan-kegiatan sosial hingga Kabupaten Bangkalan Bersinar dan bisa sejajar dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Indonesia. BN01/MCM/WAID-BANGKALAN

Facebook Comments