Antara Pencegahan dan Kelaparan Akibat Dampak Covid-19

Antara Pencegahan dan Kelaparan Akibat Dampak Covid-19

Oleh: Joni Lalonsang*)

WABAH Epedemi Virus Corona (Covid-19) yang melanda Kota Wuhan, Cina Tiongkok dalam sekejap berubah menjadi wabah berskala pandemi yang menyebar luas ke seluruh penjuru bumi tak terkecuali Indonesia, hampir di seluruh wilayah sejumlah masyarakat dinyatakan terinfeksi Virus Corona.

Sepintas dunia dibuat panik dan kalang kabut menghadapi serangan virus yang sangat mematikan itu, langkah cepat pun diambil pihak otoritas di berbagai negara untuk mencegah meluasnya wabah virus yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa dan ratusan ribu orang terinfeksi yang saat ini tengah dalam penanganan medis.

Perekonomian dunia pun terguncang dibuatnya (Corona-red), krisis ekonomi global di depan mata. Berbagai langkah pun ditempuh pemerintah seputar pencegahan Virus Corona, mulai dari ajakan, iimbauan termasuk instruksi kepada masyarakat agar mematuhi Protokol Kesehatan.

Protokol kesehatan WHO diterjemahkan melalui imbauan pemerintah agar jaga jarak (social distancing), jaga jarak fisik minimal satu setengah meter (physical distancing), jangan menyapu muka dengan telapak tangan atau memegang hidung dan telinga, jangan menyentuh sesuatu kalau tidak penting sewaktu bepergian.

Setibanya di rumah buka sepatu atau kasut yang dipakai di depan pintu, membuka atau mendorong pintu dengan punggung atau lengan tangan, cuci tangan, buka pakaian dan cuci di mesin cuci, mandi, barulah kemudian saling menyapa dengan keluarga termasuk larangan keluar rumah terkecuali hal-hal urgent atau mendesak.

Imbauan demi imbauan terus didengungkan pemerintah dan dari berbagai pihak, namun lagi-lagi imbauan tersebut bagaikan berlalu begitu saja, “anjing menggonggong kafilah berlalu”. Kerumunan orang masih terlihat sana-sini, berbagai hajatan digelar tanpa menghiraukan imbauan pemerintah. Padahal, ajakan tersebut bermaksud mencegah warga agar tak terinfeksi Virus Corona.

Baca Juga:  Komunikasi Politik Menentukan Kemenangan dalam Kontestasi Politik

Langkah tegas pun mulai dilakukan pemerintah, yaitu membubarkan berbagai hajatan yang digelar warga, membubarkan masa di pusat-pusat keramaian, cafe dan kerumunan masa lainnya, namun tindakan tersebut belum juga membuat jera warga.

Di tengah ketidaktaatan masyarakat atas imbauan pemerintah, membuat penyebaran virus makin menggila. Diakui ajakan, imbauan maupun instruksi pemerintah tidak akan efektif bahkan dinilai hanya buang-buang energi percuma tanpa disertai penegakan hukum (law enforceman).

Bandelnya masyarakat dalam mentaati setiap aturan, anjuran serta peringatan pemerintah harus dibarengi penegakan hukum tanpa pandang bulu, siapa pun warga negara Indonesia yang melanggar peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum dalam penganan kasus Corona, termasuk para penyebar hoax, menghina dan menfitnah pemerintah terkait pencegahan Covid-19 harus ditindak tegas.

Tak mau persoalan wabah Covid-19 terus menyebar luas memaksa Presiden Joko Widodo harus bertindak lebih jauh, yaitu memperluas kebijakan social distancing dan dalam waktu dekat bakal memberlakukan Undang Undang Darurat Sipil, pemberlakuan jam malam dan warga dilarang keluar rumah pada jam tertentu dan barang siapa yang melanggar ketentuan UU Darurat Sipil terancam dipenjara.

Tindakan pemberlakuan UU Darurat Sipil sebagai langkah terpaksa pemerintah di kala mencermati kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan jauh dari yang diharapkan, sehingga langkah penerapan darurat sipil menjadi satu-satunya pilihan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Tidak ada lagi cara dan langkah lain bagi pemerintah selain pemberlakuan UU Darurat Sipil untuk memberi pelajaran maupun efek jera kepada siapa saja warga negara Indonesia yang membandel, penjara menunggu, sebelum pemberlakuan sebaiknya taati aturan pemerintah, karena jika tidak bakal banyak orang akan digelandang masuk penjara.

Sementara itu, hal mendesak lainnya yang harus segera dilakukan pemerintah yaitu membantu masyarakat golongan kelas bawah yang kini menjerit kelaparan dan melayangkan kicauan mereka tentang lambannya penyaluran bantuan pangan seperti, beras, gula pasir, telur, minyak goreng dan bantuan uang untuk pembelian kebutuhan lainnya, semisal membeli obat-obatan, gas dan membayar tagihan listrik karena tidak lagi memiliki pendapatan.

Baca Juga:  Putus Mata Rantai Penyebaran Corona, Ini Langkah Strategis Kapolrestabes Surabaya

Upaya pencegahan dalam menekan persebaran dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 juga bersamaan dengan itu pemerintah perlu memikirkan nasib masyarakat yang kurang dan tidak mampu, termasuk mereka yang disebut miskin saat ini semakin melarat dan tak memiliki apa-apa lagi.

Pemerintah dan negara harus hadir melakukan sesuatu untuk menyelamatkan masyarakat, bukan cuma melindungi warga dari serangan Covid-19 tapi juga menyelamatkan warga dari ancaman kelaparan.  *)Penulis adalah Wartawan Bhayangkara Nusantara

Facebook Comments

One thought on “Antara Pencegahan dan Kelaparan Akibat Dampak Covid-19

  1. Kalau bisa diimbangi dong, dilockdown ya disubsidi juga kebutuhan rakyat yang mata pencahariannya tanpa gaji seperti buruh serabutan, ojol dll

Comments are closed.