Media Punya Peranan Penting dalam Pemberantasan Narkoba

Media Punya Peranan Penting dalam Pemberantasan Narkoba

PEMILIHAN Legislatif dan Presiden (Pileg/Pilpres) tinggal menghitung hari. Namun ada sesuatu yang beda dalam pemilihan caleg (calon legislatif) tahun 2019 ini, tak hanya di tingkat DPR RI tapi juga DPRD Kota/Kabupaten, yakni terjunnya para politisi muda untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan negeri ini. Era millennial, seakan memanggil para kaum muda yang saat ini trend dengan sebutan “generasi millennial” untuk juga terjun dalam kancah perpolitikan guna menyampaikan aspirasi generasinya.

Stephen William Joseph Tambayong salah satunya. Terjun ke dunia politik dalam perhelatan akbar pesta demokrasi tahun 2019 ini untuk pemilihan di DKI Jakarta adalah kali pertama baginya. Sebagai Caleg muda dari Partai PKPI yang baru berusia 22 tahun, mencalonkan diri sebagai wakil rakyat baginya tak lain hanya untuk mengabdi demi kemajuan negeri ini.

“Saya terjun ke politik karena memang sejak bersama orangtua dan Tim dari GMDM (Garda Mencegah Dan Mengobati) sudah bergerak di dunia aktivis. Saya sendiri sudah ikut pergerakan anti narkoba sejak usia 15. Sekarang 22 tahun, jadi sudah cukup panjang dalam usia muda masuk dunia aktivis. Meskipun belum masuk ke dunia politik praktis tapi suka belajar tentang politik,” kata Stephen William Joseph Tambayong kepada MBN, Selasa (19/03/2019) di Sekretariat DPP GMDM.

Bagi sosok muda berstatus mahasiswa Fakultas Hukum di Jakarta ini, politik menjadi suatu kendaraan untuk masuk ke dalam jenjang yang lebih tinggi. Tujuan pastinya untuk membuat perubahan secara riil. “Kalau kita aktivis demo atau bikin acara, belum tentu jadi perubahan, karena kita hanya menyuarakan. Tapi kalau kita sebagai anggota dewan legislatif atau masuk ke eksekutif dalam pemerintahan, kita bisa membuat perubahan secara pasti. Itulah yang membuat saya tertarik ke dunia politik. Jadi bukan hanya ingin berkoar-koar di depan banyak orang. Itu memang bagus, tapi kita ‘kan mau ada adanya perubahan yang benar-benar riil,” ungkap Stephen.

Menurut Stephen, untuk perubahan dan masuk ke sistem pemerintahan, dirinya sangat paham tentang anggota dewan sendiri, yang memang tugasnya tidak harus selalu di masyarakat. Tapi harus benar-benar bisa menyuarakan suara rakyat. “Tapi kenyataannya, kita saja gak kenal anggota dewan kita siapa. Kita gak pernah ada namanya pertemuan atau acara-acara seperti temu warga, tampung aspirasi warga. Lalu kenapa hanya pencalegan aja, ketika terpilih tidak pernah lagi ada komunikasi. Bagaimana anggota dewan ini bisa mewakili rakyat kalau dia tak pernah menyerap aspirasi rakyat. Lalu suara siapa yang diwakili? Berarti bukan suaranya rakyat, tapi partai,” kata Stephen.

Terkait hal itu, bagi Stephen sendiri bukanlah hal yang asing. Karena hampir setiap hari dirinya menyambangi warga, sehingga saat dirinya mencalonkan sebagai caleg hal ini tiada beda baginya. Karena memang setiap harinya, mulai dari sebelum pencalegan sudah sering membaur dengan masyarakat, dan sebagai generasi muda yang juga tenaga penyuluh, dalam kesehariannya kerap bertemu anak-anak sekolah, kuliahan dan orang orang di lingkungan RT/RW untuk sosialisasi tentang bahaya narkoba.

“Jadi ini bukan suatu hal yang baru lagi bagi aku. Nah itu yang ingin aku suarakan. Awalnya memang aku ngobrol dengan teman dan orang tua untuk jenjang aku selanjutnya selain di aktivis. Mereka sarankan aku harus masuk ke sistem untuk perubahan. Sekarang, millennial yang terjun bukan satu atau dua. Bahkan 40 – 50% angka calegnya anak muda, caleg millennial se-Indonesia. Ini seperti suatu semangat positif yang kusambut, yang muda yang kreatif. Ini benar-benar seperti semangat baru bagi teman teman millennial,” jelas Stephen.

Meski demikian, kata Stephen, bukan berarti dirinya meremehkan para pendahulu. Semua tak lain hanya karena generasinya ingin ada perubahan, dan mengerti psikologi kaum muda, mengerti apa yang anak muda mau. “Kita ingin juga pemerintahan ini gak ketinggalan zaman. Lebih open minded sama negara-negara lain. Lalu bagaimana ekonomi kreatif ini bisa diterapkan, dan kita juga jadi bagian di sana,” kata anak dari Ketua Umum Presnas FOKAN Jefri Tambayong ini.

Dalam kaitan pencalegannya, saat ini Stephen sudah banyak melakukan berbagai kegiatan sosialisasi. Salah satunya kunjungan ke komunitas komunitas muda. Apalagi dirinya pernah menjadi Ketua Karang Taruna di tingkat RT/RT. “Nah aku bikin lagi di situ, sesama karang taruna kita ngobrol tentang apa saja keluhan dan keresahan anak muda. Misalnya di sini kekurangan apa saja. Karena itu aku selalu motivasi mereka apa keluhannya. Nanti kita coba maksimalkan untuk menyuarakan dan membahas ini. Jadi keresahan mereka ditampung benar-benar, karena sebenarnya semua anak muda ingin didengar,” ungkapnya.

 

Visi ke Depan

Lalu apa saja visi, misi dan program yang ia tawarkan kepada masyarakat. Untuk misi kata Stephen, dirinya sama sekali tidak ada. Tetapi sebagai seorang aktivis bahaya narkoba ia memiliki visi ke depan, mulai dari lingkungan dewan dan pemerintahan harus benar-benar bersih dari narkoba dan bisa menerapkan itu di masyarakat. Terlebih anggota DPRD ini yang benar-benar dekat dengan masyarakat.

“Jadi, kita yang mewakili rakyat bisa bergerak di lingkungan kita masing-masing. Kita ‘kan sering dengar tingkat elit kita, korupsi, sex bebas, narkoba, sudah seperti jadi bagian kehidupan. Maka aku ingin ada perubahan dan visi aku ini dipakai teman-teman caleg muda millennial lain. Kita masuk harus tampil beda. Jangan sampai semangat keren millennial, tapi pas masuk sama aja. Artinya harus benar-benar buat perubahan bahwa semangat millennial ini yang mau kerja dan punya tenaga,” kata kelahiran Jakarta 23 September 1996 ini.

Jika dirinya terpilih, Stephen berharap dirinya bisa masuk dalam Komisi D DPRD DKI Jakarta yang membidangi tentang Pendidikan, Narkoba, HIV/AIDS dan Hak Perempuan. “Jadinya memang yang basicnya di bidangnya pemuda, narkoba/HIV, karena ini yang sebenarnya makanan sehari-hari aku. Jadi yang ingin aku perjuangkan, kita bukan hanya sebagai aktivis bergerak dengan penyuluhan-penyuluhan ke sekolah, tapi bisa tidak ini harus jadi bagian dan diterapkan jadi kurikulum,” tegasnya.

Menurut Stephen, anak muda saat ini ketika mendengar penyuluhan hanya bisa sehari dan paling lama seminggu sudah lupa akan materi penyuluhan dibagikan. Lalu bagaimana sekolah bisa meyakinkan angkat isu narkoba ini di dalam pejalaran? “Ada suara-suara di luaran, ‘kita ajari, malah dia makai’, Itu salah. Karena ketika kita ajari dan beri pengertian, harus ambil positifnya di dalam sekolah. Ketika dia mengerti tentang narkoba dan saat dia makai ada opsinya, kalau dia makai itu efeknya bagaimana. Nah itu yang harus diperhatikan sekolah,” paparnya.

Stephen juga melihat, saat ini banyak sekolah dan rumah ibadah yang melarang adanya penyuluhan narkoba. Alasannya akan terinspirasi pakai narkoba. Hal itu menurutnya salah besar. Saat mereka dengar penyuluhan bahaya narkoba, otomatis itu akan masuk ke otaknya. “Jadi ketika ada yang tawari narkoba akan langsung tahu efeknya. Tapi kalau dia dengar pengetahuan tentang narkoba dari luar sekolah, rumah ibadah dan temannya, tentunya narkoba itu tidak bahaya, sehat enak dan seru,” jelasnya.

Jadi yang ingin ia perjuangkan, ketika hampir belasan jam anak-anak menghabiskan hidupnya di dunia pendidikan sekolah, otomatis itu akan menentukan hidup dan karakternya, baik di rumah dan sekolah. Karena itu ia berharap kurikulum tentang bahaya narkoba bisa terwujud, agar mereka bisa diyakinkan, saat mereka ingin pakai bisa 3 – 5 x mikir, dibandingkan orang yang tidak mengerti sama sekali. “Jadi pertama, kita terapkan kurikulum. dan ikuti maunya anak muda ini agar punya ekonomi kreatif,” tandasnya.

Sementara untuk menggolkan kurikulum itu sendiri, kata Stephen, sebagai tenaga penyuluh dirinya pernah mengajukan itu, namun ditolak atau tidak dtanggapi oleh Kemendikbud. “Jadi kalau tidak mau terima aspirasi kami sebagai aktivis anti narkoba, maka langkah yang harus kita ambil adalah masuk ke dalam sistem. Apalagi aku lihat banyak juga yang ikut perjuangkan anti narkoba,” jelasnya.

Meski demikian, di satu sisi yang sangat disayangkan, kata Stephen, di antara kedua capres yang saat ini bertarung, sama sekali tidak ada yang mengangkat isu tentang bahaya narkoba. Padahal Indonesia sudah darurat narkoba, tapi langkah apa untuk yang dibilang darurat narkoba itu belum terlihat. “Maksudnya ada tindakan apa saja. Jujur saja, belum ada yang berarti, bahkan anggaran dipotong di BNN. Kalau bilang ini perang narkoba, maka persiapkan lagi dana dan lainnya untuk BNN,” ungkapnya.

 

All Out Perang Terhadap Narkoba

Stephen berharap, perang terhadap narkoba all out di semua elemen. tak hanya penegak hukum, masyarakat, tokoh agama, tokoh agama sampai selebriti yang saat ini banyak terjerat kasus narkoba harus ikut ambil bagian. Pertama, harus berani dan tegas kepada negara asing yang menyelundupkan atau melakukan pembiaran atas masuknya narkoba ke Indonesia. Kedua, putuskan hubungan diplomatik.

“Sebenarnya ada regulasi yang lucu dari negara-negara itu. Mereka bilang, ‘selama narkoba ini lewat dari negaranya dan tidak mengedarkan di negara tersebut itu tak masalah’. Ini konyol, boleh ga kita juga lakukan hal yang sama? Di negara mereka itu hukuman terhadap pelaku narkoba sangat tegas, tembak mati di tempat. Tapi kenapa mereka biarkan narkoba lewat. Ini seperti ada kongkalikong, kesengajaan untuk masuki narkoba ke Indonesia,” kata Stephen mengungkapkan.

Narkoba, lanjut Stephen, hampir 80% masuk dari laut. Artinya ada peran negara-negara asing. Untuk itu Indonesia harus all out, berani dan tegas kepada negara negara asing. Kedua, harus benar terlihat dari semua aspek masyarakat dan pemerintah benar-benar semangat seperti perang melawan korupsi yang selalu media soroti, karena hal itu jadi tolok ukur keseriusan pemerintah.

“Kita para penggiat anti narkoba tidak pernah disorot televisi saat melakukan penyuluhan. Tapi kalau KPK melakukan OTT langsung masuk TV.  Padahal kerugian akibat narkoba itu sangat besar, dan lebih parah. Pertahunnya bisa puluhan ribu orang meninggal karena narkoba. Bahkan uang yang berputar lebih banyak lagi. Jadi peran media dan pemerintah harus benar-benar serius, di samping kurikulum. Perang kalau tidak dikasih bekal, bagaimana mau perang kalau bekalnya gak dapat. Minimal kita ngerti musuh kita dan apa yang harus kita hindari. Jadi 3 hal ini yang aku lihat,” jelasnya.

Jadi yang dikhawatirkan, semua kegiatan yang selama ini dilakukan mulai dari penyuluhan, kampanye dan sosialisasi bahaya narkoba hanya sambil lalu. Namun bukan berarti tidak efektif, tetapi harus ada tindak lanjut. “Jadi bukannya habis penyuluhan langsung selesai. Sekolah harus ambil materi ini seperti GMDM, kita lanjuti harus dipahami. Tapi sayangnya di beberapa sekolah, contoh tahun 2017 kita penyuluhan, 2018 kita datang dengan anak-anak yang sama tetap saja mereka tidak tahu. Ini artinya tidak ditindaklanjuti pihak sekolah, karena anggap setelah penyuluhan selesai, ya sudah,” imbuhnya.

Karena itu kata Stephen, jangan heran jika angka pengguna narkoba saat ini sudah sampai 6 – 7 juta, yang itu semua pemula dan rata-rata usia pendidikan sekolah, muda dan pekerja. “Jadi pemerintah dan media perlakuannya harus seperti KPK-lah, didukung. Nah, bisa tidak kalau penyuluhan itu oleh media diangkat benar-benar sebagai isu penting. Jangan gak dianggap. Media sangat mempengaruhi dan punya peranan penting sebagai striker dalam pemberantasan narkoba,” katanya mengkritisi.

Untuk itu sebagai generasi penerus, jika dirinya menjadi anggota dewan akan memperjuangkan generasi millennial dan menginginkan kaum muda itu sejahtera. “Kalau dia hidupnya sudah sejahtera, kantong ada isinya, perutnya kenyang, otomatis dia pakai narkoba mikir dua kali. Kalau dia sudah sukses dan kreatif, gak mungkinlah dia mau pakai narkoba. Karena mereka pikir hidup sudah seattle dan enak, gak ada keresahan. Nah aku mau semua anak muda merasakan hal yang sama. Kita kasih mereka enterpreneurship, tentang wirausaha dan siapkan pelatihan yang benar-benar,” kata Stephen William Joseph Tambayong mengakhiri. ED – JAKARTA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *