Rugikan Masyarakat, FKM2 Polri Sinergi dengan Pihak Berwajib Tindak Perusahaan Penipu Tenaga Kerja

Rugikan Masyarakat, FKM2 Polri Sinergi dengan Pihak Berwajib Tindak Perusahaan Penipu Tenaga Kerja

SULITNYA lapangan pekerjaan dan minimnya skill yang dimiliki menjadi masalah krusial bangsa ini. Fungsi Balai Latihan Kerja (BLK) harus dimaksimalkan, terlebih di daerah-daerah seperti Bekasi, Karawang, Cikampek, Subang dan wilayah lainnya di Indonesia. Selain itu kurangnya sosialisasi program latihan kerja oleh dinas tenaga kerja (disnaker) menjadi ajang kesempatan atau peluang bagi para pelaku tindak pidana penipuan di bidang rekrutment calon tenaga kerja, dengan dalih perusahaan penyalur tenaga kerja banyak masyarakat yang tertipu.

Di Jakarta sendiri yang notabene Ibukota Negara Republik Indonesia, banyak perusahaan yang berkedok penyalur tenaga kerja. Puluhan korban tiap hari telah menjadi mangsa perusahaan-perusahaan yang terkesan dibiarkan ini. Untuk ini harus ada tindakan tegas untuk memberikan efek jera bagi para pelaku penipuan agar tidak terjadi lagi di kemudian hari yang banyak memberikan kerugian.

Untuk Itu, Ketua FKM2 Polri yang juga Ketua Umum Lembaga Tatar Sunda Diansyah Putra, SE, S.Kom, MM bersinergi dengan pihak berwajib untuk meminimalisir tindakan-tindakan yang merugikan masyarakat. Seperti kasus yang menimpa warga masyarakat, sebut saja U, yang melaporkan ke Posbakum Lembaga Tatar Sunda terkait penipuan yang didapatnya dari info loker di sebuah grup media sosil.
“Selasa, 10 Juli 2018 lalu saya mendapatkan info loker dari grup’Info Loker Sejabodetabek’ yang bersumber dari Septian. Info loker tersebut dari. PT. Denso Indonesia. Lalu saya langsung searching link yang septian kirim di grup itu dan melihat infonya bahwa memang benar perusahaan tersebut sedang membuka loker. Salah satunya sebagai staff administrasi yang memang saya minati. Di sana pun terdapat nomor seseorang bernaama Haris. Setelah dibaca semua memang terdapat tulisan, ‘jika berminat untuk bergabung di PT. Denso Indonesia melalui via adm/jalur khusus dibantu untuk langsung kerja’. Karena saya penasaran, langsung saja saya menghubungi nomor tersebut untuk registrasi,” paparnya.

Tak lama kemudian, lanjut warga tadi, ia pun mendapat balasan dari nomor tersebut. Isinya menjelaskan tentang biaya sebesar 1 juta yang diserahkan setelah tanda tangan kontrak di PT. Denso Indonesia. “Saya pun menghubungi grup loker sejabodetabek menanyakan apakah itu tipu-tipu atau bukan. Jawabannya, itu asli. Akhirnya saya memberitaukan info ini kepada bapak saya. Bapak pun setuju karena pemberian uangnya setelah tanda tangan kontrak. Kemudian setelah mendapat persetujuan dari bapak, saya pun membalas pesan tersebut dan siap untuk bergabung,”  jelasnya.

Selang beberapa saat, nomor atas nama Haris tersebut membalas lagi. Ia menjelaskan secara detail untuk interview keesokan harinya di komplek perkantoran PTC Pulogadung, Jl. Raya Bekasi Km 21, PT. Gelora Insan Mandiri, Blok 8i, Nomor 30, samping Family Mart dengan membawa surat lamaran kerja, berpakaian rapi. Dijelaskannya juga bahwa setelah interview psikotes langsung diantar ke lokasi PT. Denso Indonesia untuk tanda tangan kontrak kerja di sana berikut penyerahan uangnya.

“Tapi saya sedikit bingung, kok interviewnya bukan di PT. Denso. Akhirnya saya setujui saja dan memberitaukan bapak saya tentang uang yang harus dibawa. Bapak saya pun langsung mencari uang tersebut. Ia pinjam kepada temannya. Tapi kebetulan uangnya sedang kosong, jadi tidak ada dan bapak saya mencoba pinjam kepada nenek saya yang memang sedang ada uang untuk membeli TV. Akhirnya, nenek saya meminjamkan uangnya dengan waktu 4 hari,” ungkap U.
Selanjutnya pada Rabu, 11 Juli 2018, pagi sekali, U dan bapaknya pun pergi menuju Pulogadung dengan membawa uang 1 juta tersebut. Dalam perjalanan, ia kembali mendapat pesan dari Haris yang menanyakan apakah dirinya jadi datang atau tidak. Saat itu U langsung membalas pesan tersebut dan memberitaukan bahwa dirinya jadi datang dan sedang dalam perjalanan. Sesampainya di Pulogadung, U dan bapaknya langsung mencari kantor tersebut.

“Akhirnya ketemu, langsung saja saya dan bapak saya masuk ke kantor tersebut, bertemu dengan resepsionis dan beberapa orang di sana. Resepsionis pun langsung bertanya, ‘Ingin bertemu dengan siapa’. Saya jawab, ‘dengan Bapak Haris’. Resepsionis lalu bertanya lagi, ‘Apakah ada SMS/WA dari Bapak Harisnya?’ Saya pun langsung memperlihatkan WA saya dengan Pa Haris kepada resepsionis. Lalu ia mempersilhkan saya keluarkan surat lamaran  dan mengisi buku tamu,” ungkap U.

Tanpa berlama-lama, kemudian U mengeluarkan surat lamaran dan langsung menyerahkannya kepada resepsionis tersebut sambil mengisi buku tamu. Tak lama datanglah seorang pria yang mempersilakan untuk naik ke atas ke lantai 2. “Saya sudah menaiki tangga dan hampir sampai ke pintu ruangan, tapi bapak saya turun lagi ingin menunggu di bawah saja. Saya pun masuk, lalu bapak tersebut menanyakan bapak saya untuk mendampingi saya. Lalu diteleponlah resepsionis tadi untuk memberitaukan agar bapak saya di persilahkan untuk balik lagi ke atas mendampingi saya. Tak lama berselang, bapak pun datang dan mereka dipersilahkan duduk,” paparnya.

Sebut saja Arya Saputra, yang menerima mereka saat itu, langsung saja memulai percakapan dan menjelaskan lebih detail tentang PT. Denso Indonesia. Mulai dari fasilitas gaji, pekerjaan dan sebagainya. “Jujur saya pun tergiur fasilitas dan gajinya karena memang besar. Interview pun dimulai, dan Arya meminta kami membayar uang yang 1 juta itu agar psikotesnya bisa dimulai. Akhirnya bapak saya membayar uang 1 juta itu ke bagian keuangan dan mendapat kwitansi. Lalu saya mulai psikotes yang diberi waktu 1 jam. Tapi setengah jam saya saja selesaikan interview, tiba-tiba Arya meminjam kwitansi pembayaran uang 1 juta untuk di fax ke PT. Denso Indonesia beserta hasil psikotes tersebut. Saya pun disuruh konfirmasi lewat WA kepada Pak Haris di PT. Denso Indonesia bahwa ia telah selesai psikotes,” ungkap U.

Jawaban konfirmasi dari Haris dikatakan bahwa U diminta untuk menunggu hasilnya. Setelah beberapa lama, kemudian Haris mengirimkan pesan WA yang isinya hasil dari psikotes tersebut “lulus” dan U diterima bekerja dengan posisi staff admin produksi, namun dengan syarat membayar uang 3,5 juta sebagai pengganti izajah/uang jaminan deposit yang akan dikembalikan setelah satu bulan. “Saya pun berpikir, toh itu hanya uang jaminan dan akan dikembalikan setelah satu bulan. Lalu Arya pun menjelaskan kembali apa yang dimaksud Pak Haris. Akhirnya Bapak saya menyetujuinya dengan meminta waktu sampai hari Jum’at, dan disepakati Bapak Arya dan kami dipersilakan pulang,” ujarnya.

Setelah keluar dari kantor tersebut, mereka mampir terlebih dalu ke warung seberang PTC/kantor tersebut. Dari sana ia teringat bahwa kwitansi transaksi tadi masih di kantor, belum dikembalikan oleh Arya. U pun kembali ke kantor sendiri, dan bapaknya menunggu di warung sambil minum kopi. Namun anehanya, setelah masuk kembali ke kantor tersebut dan menemui Arya, ia mengatakan bahwa kwitansi tersebut untuk pegangan yang nantinya akan diberikan ke PT. Denso Indonesia dan dikembalikan kepada U setelah ia membayar uang jaminan yang 3,5 juta.

Mendengar hal itu, U terlihat sedikit ragu, hingga akhirnya kembali ke warung dan menemui bapaknya untuk memberitaukan pembicaraan tadi. Saat itu bapak menyetujuinya dan berkata, “tidak apa-apa”. Setelah selesai makan makan dan minum kopi di warung, merekaa pun pulang ke Bogor. Dalam perjalanan pulang, teman U yang memberikan info loker tersebut mengirimkan pesan, menanyakan tentang hasilnya. “Saya menceritakan semuanya, lalu Septian menjawab, “Iya betul seperti itu prosedurnya’. Setelah sampai rumah saya pun menceritakan kepada ibu dan kakak saya,” imbuhnya.

Keesokan harinya,  Kamis 12 Juli 2018, Bapak pun mulai mencari pinjaman uang. Mulai dari menggadaikan motor dan pinjam kepada teman-temannya. Kebetulan U juga masih mempunyai uang gaji hasil dari menjadi pengawas pemilihan umum bulan lalu sebesar 550 ribu yang belum dicairkan. Hari itu juga, ia langsung mencairkannya di bank. “Rencananya untuk mengganti uang pinjaman bapak saya yang beberapa hari lalu kepada Pak Yudis dengan menjaminkan KTP dan STNK motor. Jadi setelah STNK motornya kembali bisa digadaikan sebesar 2 juta berikut motornya,” jelas U.

Jelang magrib, teman bapak pun datang ke rumah dan meminjamkan uang sebesar 2,5 juta. Bapak U juga mencari orang yang mau menerima gadain motor, sampai akhirnya bertemu dengan tetangga yang memang sedang membutuhkan gadaian motor. Tapi uangnya hanya ada 1 juta, sementara bapak menginginkan gadaian sebesar 2 juta. “Karena saya dan bapak membutuhkan uang tersebut, akhirnya uang 1 juta itu diambil dan 1 jutanya menyusul lusa. Malam hari saya berpikir keras apakah benar prosedurnya seperti itu, atau bukan. Tapi banyak yang bilang memang seperti itu. Akhirnya saya mengirim pesan kembali kepada Septian menanyakan kembali agar saya yakin. Septian menjawab, ‘coba saja datangi dulu, tapi hati-hati’. Intinya dia bilang, waspadai… takut penipuan,” kata U.

13 Juli 2018 dini hari sekali. Kebetulan Yudis ke rumah dan menemui bapak U. Saat itu Bapak menceritakan perihal keberangkatan mereka ke Pulogadung untuk membereskan urusan lowongan kerja dan diceritakan semua kepada Yudis. Saat itu Yudis merespon dengan baik dan mengiyakan bahwa prosedur perusahaan besar saat ini memang seperti itu, melewati yayasan penyalur kerja yang bekerjasama dengan perusahaan tersebut, bahkan untuk tanda tangan kontrak pun di yayasan. Karena Yudis seorang pekerja di pemda, Bapak U semakin yakin dengan loker yang di Pulogadung. “Lalu bapak saya ingin mengembalikan uang yang dipinjam sebesar 450 ribu itu kepada Pak Yudis, tapi ia bilang, ‘tidak usah sekarang, kalau gitu pakai dulu saja gampang’. Padahal bapak saya ingin mengembalikan agar bisa mengambil STNK motornya,” ujarnya.

Kemudian Yudis pamit dan U berbicara kepada bapaknya bahwa harus ada komitmen sebelum membayar uang yang 3,5 juta itu. “kalau pembayarannya di PT. Denso setelah tanda tangan kontrak kerja OK, tapi kalau dibayarkannya di yayasan, lebih baik batalkan dan uang yang 1 juta ambil kembali,” tegas U.

Saat itu Bapak U sejutu dengan komitmen tersebut. Akhirnya U  dan bapaknya berangkat menuju Pulogadung. Di tengah perjalanan, Haris menanyakan sudah sampai di mana, karena sebelumnya ia konfirmasi U dan bapaknya akan datang. U pun menjawab mereka sudah di di Cakung. Sesampainya di sana U melihat dari kejauhan ada seseorang yang tepat berdiri di depan kantor yayasan itu sedang memperhatikan arah mereka. Semakin mendekat, akhirnya mereka sampai di depan kantor yayasan tersebut, dan seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka bertanya mau bertemu siapa sambil mempersilakan masuk.

“Lalu kami masuk dan bertemu resepsionis, yang langsung menanyakan kelengkapan surat lamaran kerja dan langsung saja saya berikan. Tak lama datanglah Pak Arya. Kami dipersilahkan naik ke ruangan lantai 2 dan langsung dipersilahkan duduk dan membayar uang yang 3,5 juta. Lalu bapak saya bertanya, ‘tanda tangan kontrak kerjanya dimana?’ Arya menjawab, ‘di atas Pak nanti kita ke lantai 3’. Akhirnya bapak saya membayarkan uang yang 3,5 juta itu dan diberikan kwitansi. Lalu kami dan Pak Arya naik ke lantai tiga masuk ke ruangan yang di dalamnya sudah ada satu orang. Namun Arya pergi meninggalkan kami dan dipersilakan duduk oleh Bapak yang di dalam, yang tidak tahu namanya siapa. Kemudian kwitansi yang saya pegang diminta dan saya berikan. Bapak tersebut mengurus dua surat perjanjian di atas materai, lalu menandatanganinya terlebih dulu. Namun kami membaca surat perjanjiannya terlebih dulu, dan bapak tersebut menanyakan, “Apakah ada yang ingin ditanyakan?” Saya jawab, ’tidak ada’. Bapak saya pun demikian,” paparnya.

Selanjunya U member kode, apakah surat ini ditandatangani atau tidak. Bapak U pun mengiyakan. Akhirnya U menandatanganinya. Setelah itu bapak tersebut meminta uang sebesar 200 ribu untuk stempel di atas materai dan bapak U pun memberikannya. Bapak tersebut keluar ruangan dan datang lagi dengan memberikan satu lembar surat perjanjian kepada U. “Setelah itu bapak tersebut mengeluarkan satu kertas prosedur yang mereka terapkan. Isinya, jika mau masuk perusahaan trade 1 harus membayar lagi sebesar +4 juta, trade 2 sebesar 3 juta, trade 3 sebesar + 3 juta, trade 4 sebesar 2,5 juta. Sedangkan PT. Denso Indonesia masuk dalam trade 1. Maka jika saya ingin masuk ke PT. Denso harus membayar uang sebesar + 4 juta,” ungkap U.

Dari situlah U mulai curiga. Kal ini mereka tidak menyanggupinya, karena untuk membayar uang 3,5 juta saja hasil pinjam ke sana ke mari. Akhirnya bapak tersebut mengalihkan U untuk bekerja di perusahaan trade 4 hanya bayar 2,5 juta, bisa dipotong gaji. Mereka diberi dua2 pilihan untuk memilih antara perusahaan di Jakarta atau Bogor. “Saya memilih di Jakarta, langsung saja bapak tersebut memberikan surat pengantar kepada saya untuk mendatangi perusahaan yang bernama PT. Portibitrans Nusaindo Express yang bertempat di Tanjung Barat. Setelah saya lihat surat pengantar yang dimasukkan ke dalam amplop bertuliskan nama yayasan PT. Rankasa Indonesia itu, langsung saja saya searching (google-red.). Hasilnya bahwa perusahaan tersebut adalah penipu dan mafia yang sudah tersebar luas seIndonesia. Dari situlah saya tahu bahwa saya sedang ditipu. Sedangkan bapak tersebut masih menjelaskan hal lain kepada bapak saya. Saya pun bertanya, ‘apakah uang tersebut bisa kembali kalau ini dibatalkan?’ Jawabnya, “tidak bisa, karena sudah tercantum di surat perjanjian”.

Kontan saja U langsung down, dan bapak tersebut meminta lagi uang lagi sebesar 50 ribu untuk surat pengantar. Tapi U alihkan dan mengatakan uangnya tidak ada karena untuk ongkos tidak cukup. Terlihat dari wajah bapak itu kesal, akhirnya mereka pamit keluar dari kantor. “Saya langsung memberitaukan kepada bapak saya bahwa PT. Rankasa adalah penipu. Bapak saya mencoba menenangkan dan mengajak ke warung seberang PTC tersebut. Langsung saja saya berikan hasil searchingan PT. Rankasa dan saya menangis,” imbuhnya. Umar/ED – Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *