PT. Havindo Pakan Optima “Produksi” Kutu?

PT. Havindo Pakan Optima “Produksi” Kutu?

PT. Havindo Pakan Optima, perusahaan yang memproduksi pakan ternak babi yang berada di Kawasan Industri Candi (KIC) Semarang, keberadaannya selama ini ternyata lebih banyak memproduksi polusi udara, bau menyengat dan bising. Hal ini, dinilai masyarakat setempat ada unsur kesengajaan dan “pembangkangan” terhadap teguran dinas terkait. Apalagi manajemen perusahaan tersebut juga terlihat lalai dalam pengadaan bahan baku, yang mengakibatkan mutu udara menjadi buruk.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang beberapa tahun lalu sempat memberikan surat teguran kepada pihak perusahaan. Namun hal itu tak membuat perusahaan bergeming, bahkan surat tersebut tidak dianggap, seakan dipandang sebelah mata.

“Surat sakti” yang dikeluarkan Gunawan Saptori, SH, MM selaku Kepala Dinas LH Semarang Kota terkait penutupan pabrik, seakan kurang ampuh untuk membuat pihak perusahaan taat terhadap teguran yang dikeluarkan Dinas LH selaku pihak yang berwenang. Padahal, sudah tiga kali tidak surat dilayangkan, namun tetap tidak pernah digubris.

Kawasan Industri Candi, berdasarkan informasi yang layak dipercaya, sejak November 2015 hingga Februari 2016 dilaporkan telah mengalami penurunan baku mutu atau kualitas udara, khususnya baku kebauan. Ini diduga, lantaran proses pengolahan pakan ternak oleh PT. Havindo Pakan Optima ada yang tidak beres. Imbasnya, hal ini mengganggu aktifitas para karyawan perusahaan lain yang berada di Kawasan Industri Candi, dan berujung turun drastisnya produksi pabrik-pabrik lain di kawasan tersebut.

Tak pelak, hal ini pun mendapat reaksi dari warga dan para karyawan. Salah seorang warga setempat  beberapa waktu lalu mengungkapkan, pelanggaran PT. Havindo Pakan Optima sudah tidak bisa ditolerir. Karena begitu banyak dampak kerugian di masyarakat dan industri lain di sekitarnya. Salah satunya serangan hama (kutu-red.) yang bersumber dari proses produksi di pabrik pakan ternak tersebut, seakan menjadi “teror” bagi warga.

Reaksi warga tentu saja mendapat respon langsung dari Dirut PT. Havindo Pakan Optima, Suhartanto. Dalam keterangannya di beberapa media Suhartanto membantah tudingan bahwa bau yang menyengat dan tak sedap di area KIC berasal dari pabriknya. “Bukan dari pabrik saya, tapi dari bau sampah di sekitar KIC ((TPA-red.),” katanya.

Bantahan ini tentu saja mendapat respon dari masyarakat, dan menilainya sebagai “bualan dan omong kosong” Suhartanto. Karena faktanya, pumigasi yang diinginkan para investor dan industri, serta warga setempat khususnya di RW 02, Kelurahan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, tidak pernah dilaksanakan pihak perusahaan. Apalagi keinginan untuk menutup pabrik sementara.

Sementara itu, pengakuan Suhartanto seperti dilansir Jawa Post (16/11/17) bahwa pabriknya telah membuat jaring kawat anti nyamuk dengan ukuran 0,3 micron agar kutu sekecil apapun tidak bisa keluar dari pabrik, terkesan tidak masuk akal. Perusahaan tidak sadar, bahwa merekalah yang menjadi sumber dari penyebaran kutu- kutu tersebut.  Karena dalam prosesnya, kutu -kutu tersebut akan menempel dan hinggap melalui tubuh siapa pun yang masuk dan keluar pabrik. Baik melalui Suhartanto sendiri, para karyawan, penjemput karyawan, bahkan para tamu yang datang mengunjungi pabrik tersebut akan terindikasi membawa kutu kutu itu hingga jauh dan menyebar di pemukiman warga.

Penelusuran di lapangan bahkan ditemukan bukti. Salah satunya pada pintu masuk pabrik yang didapati kutu kutu tersebut hinggap dan merayap di mana saja, sampai di motor, helm dan jaket yang berada di parkiran tak luput dari kutu. Rupanya, kutu kutu tersebut terbang terbawa angin, bukan karena musim ataupun iklim yang terjadi di KIC saat itu.

Dalam proses pembuatan pakan tersebut, PT. Havindo Pakan Optima menggunakan beberapa bahan baku yang sangat disukai oleh kutu, di antaranya tepung ikan, jagung dan dedak. Karenanya, besar kemungkinan kutu-kutu tersebut bisa masuk ke dalam kemasan makanan, minuman, bahkan pakaian yang diproduksi pabrik di Kawasan Industri Candi. “Ini sangat meresahkan para investor,” kata salah seorang karyawan pabrik di kawasan industri tersebut. YB/ED – SEMARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *