Ketua Umum Pernusa Geram Hoax Berkonten SARA Marak Beredar di Medsos Teroganisir

Ketua Umum Pernusa Geram Hoax Berkonten SARA Marak Beredar di Medsos Teroganisir

MARAK beredarnya berita hoax penyebar konten bernuansa SARA di media sosial belakangan ini membuat geram Ketua Umum Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa), Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro, SH, MM. Terlebih berita hoax tersebut penyebarannya dilakukan secara terorganisir, yang salah satunya dilakukan oleh sebuah group yang menamakan dirinya group Saracen

Secara tegas, Kanjeng Norman mengecam keras kelompok hoax tersebut dan mengibaratkan mereka tak ubahnya “teroris gaya baru”.  Pada pertengahan awal tahun 2000-an sampai dengan sekarang, kelompok-kelompok teroris selalu mencoba merusak Indonesia dengan berbagai cara. Di antaranya dengan melakukan pemboman bunuh diri, menyerang petugas keamanan, dan pencucian otak melalui penyebaran paham-paham radikal.

Namun kini, kata Norman, cara itu sepertinya sudah mengalami perubahan pola pergerakan semenjak boomingnya pilkada DKI, salah satunya dengan memanfaatkan medsos.  “HTI sudah dibubarkan, tetapi orang-orangnya berkeliaran di medsos dengan propaganda pecah belah NKRI,” kata kanjeng Norman

Tak hanya itu, Kanjeng Norman juga menyoroti pernyataan “raja hoax” Jonru Ginting yang disebut-sebut sebagai salah satu aktor yang membidani lahirnya Saracen. Pasalnya, kali ini Presiden Jokowi juga menjadi salah satu sasaran tembak Saracen. Jonru dalam akun facebooknya pada 8 Juli lalu mengatakan, “Jokowi adalah satu-satu-satunya calon Presiden yang belum jelas siapa orang tuanya. Sungguh aneh! Untuk jabatan sepenting PRESIDEN, begitu banyak orang yang percaya kepada orang yang asal muasalnya serba belum jelas”. Status Jonru ini, mendapat 14.119 like, 4.068 komentar dan dibagikan 661 kali

“Pernyataan Jonru ini sudah terang-terangan menghina Presiden RI. Seharusnya ia segera ditangkap. Mari tegakkan hukum. Sosialisasikan nilai nilai Pancasila di seluruh lapisan masyarakat. Siapa pun yang menjadi pemimpin harus dapat menjadi panutan masyarakat, dan anggota-anggota DPR saat ini belum mencerminkan wakil rakyat,” papar Kanjeng Norman, seraya menyebut mantan Gubernur Ahok sebagai korban medsos. “Ahok korban medsos, dia harus segera diikeluarkan dari penjara,” tandasnya.

Seperti diketahui, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (23/8) lalu polisi mengungkap pihaknya telah menangkap tiga orang yang terlibat dalam kasus Saracen. Mereka di antaranya MFT (43), yang ditangkap pada 21 Juli 2017, SRN (32) yang ditangkap pada 5 Agustus lalu di Cianjur, Jawa Barat, dan JAS (32) yang ditangkap di Pekanbaru, Riau pada 7 Agustus lalu.

Belakangan  Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri kembali menangkap tersangka baru dalam jaringan sindikat penebar kebencian, Saracen. Tersangka bernama Muhammad Abdul Harsono alias MAH ditangkap di Pekanbaru, Riau, Rabu, 30 Agustus 2017.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, Harsono terpantau mengubah grup Saracen menjadi NKRI Harga Mati. Harsono juga diketahui tetap aktif menebar kebencian meski Jasriadi atau JAS telah ditangkap.

“Karena sejak awal kita katakan, bahwa web (grup) ini kita biarkan, kita ingin tahu perkembangannya, apa yang dilakukan pasca-penangkapan JAS,” ujar Martinus di Mabes Polri, Jakarta Selatan. ED/GUMAY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *